FILSAFAT PANCASILA - PowerPoint PPT Presentation

Loading...

PPT – FILSAFAT PANCASILA PowerPoint presentation | free to download - id: 7f6b73-YTU0Y



Loading


The Adobe Flash plugin is needed to view this content

Get the plugin now

View by Category
About This Presentation
Title:

FILSAFAT PANCASILA

Description:

Title: Slide 1 Author: User98 Last modified by: User Created Date: 6/22/2005 4:45:54 AM Document presentation format: On-screen Show (4:3) Company – PowerPoint PPT presentation

Number of Views:90
Avg rating:3.0/5.0
Date added: 9 October 2018
Slides: 61
Provided by: User3523
Learn more at: http://widhihandoko.com
Category:

less

Write a Comment
User Comments (0)
Transcript and Presenter's Notes

Title: FILSAFAT PANCASILA


1
FILSAFAT PANCASILA
2
KAUM INTELEKTUAL
_at_ Kaum yg bertanggung jawab thd kemajuan
bangsa _at_ Harus mampu lepas dari 4 penjara (alam,
sejarah, masyarakat dan ego) _at_
Diatasi dengan membersihkan niat, paradigma
baru, dan berkreasi
ETIKA KEILMUAN
3
APAKAH FILSAFAT ITU?
4
HAKEKAT KODERAT MANUSIA
  • Manusia sebagai mahluk MONOPLURALIS, yang
    terdiri atas monodualitas2.

Badan Zat hewani, Nabati, benda mati
Monodualitas
  • Susunan Koderat
  • Badan -Jasmani
  • Jiwa-Rohani
  • Jiwa
  • Cipta
  • Rasa
  • Karsa
  • Kesatuan AKAL
  • Sifat Koderat
  • Mahluk Individu
  • Mahluk Sosial
  • Kedudukan Koderat
  • Pribadi mandiri
  • Mahluk Tuhan

Paul Vinogradoff Berhub dgn org lain adalah
perintah alam
MANUSIA
5
MANUSIA BERTANYAmenghadapi realita
  • Aku datang - entah dari mana,
  • aku ini - entah siapa,
  • aku pergi - entah kemana,
  • aku akan mati - entah kapan,
  • aku heran bahwa aku gembira.
  • (Martinus dari Biberach,
  • tokoh abad pertengahan).

6
  • Manusia mengharapkan dari berbagai agama
    jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar
    keadaan hidup manusia.
  • Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia
    tersebut menggelisahkan hati manusia secara
    mendalam
  • apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu
    kebaikan apa itu dosa, apa asal mula dan apa
    tujuan derita, mana kiranya jalan untuk mencapai
    kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa
    pengadilan dan ganjaran sesudah maut, akhirnya
    apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan,
    yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita
    berasal dan kepadanya kita menuju?
  • (Deklarasi Konsili Vatikan II, 1965).

7
MANUSIA BERFILSAFATmemaknai realita
  1. Sudah sejak awal sejarah ternyata sikap iman
    penuh taqwa itu tidak menahan manusia menggunakan
    akal budi dan fikirannya untuk mencari tahu apa
    sebenarnya yang ada dibalik segala kenyataan
    (realitas) itu.
  2. Proses itu mencari tahu itu menghasilkan
    kesadaran, yang disebut pengetahuan.
  3. Jika proses itu memiliki ciri-ciri metodis,
    sistematis dan koheren, dan cara mendapatkannya
    dapat dipertanggung-jawabkan, maka lahirlah ilmu
    pengetahuan.

8
ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT
  • Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang (1)
    disusun metodis, sistematis dan koheren
    (bertalian) tentang suatu bidang tertentu dari
    kenyataan (realitas), dan yang (2) dapat
    digunakan untuk menerangkan gejala-gejala
    tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.
  • Filsafat adalah pengetahuan metodis, sistematis
    dan koheren tentang seluruh kenyataan (realitas).
  • Filsafat merupakan refleksi rasional (fikir) atas
    keseluruhan realitas untuk mencapai hakikat (
    kebenaran) dan memperoleh hikmat (
    kebijaksanaan).

9
TINGKAT ABTRAKSI DLM ILMU PENGETAHUAN ARISTOTELES
  • Aras abstraksi pertama - fisika.
  • Aras abstraksi kedua - matesis.
  • Aras abstraksi ketiga - teologi atau filsafat
    pertama.

10
Aras abstraksi pertama - fisika.
  • Kita mulai berfikir kalau kita mengamati. Dalam
    berfikir, akal dan budi kita melepaskan diri
    dari pengamatan inderawi segi-segi tertentu,
    yaitu materi yang dapat dirasakan (hyle
    aistete).
  • Dari hal-hal yang partikular dan nyata, ditarik
    daripadanya hal-hal yang bersifat umum itulah
    proses abstraksi dari ciri-ciri individual.
  • Akal budi manusia, bersama materi yang abstrak
    itu, menghasilan ilmu pengetahuan yang disebut
    fisika (physos alam).

11
Aras abstraksi kedua - matesis.
  • Dalam proses abstraksi selanjutnya, kita dapat
    melepaskan diri dari materi yang kelihatan. Itu
    terjadi kalau akal budi melepaskan dari materi
    hanya segi yang dapat dimengerti (hyle noete).
    Ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh jenis
    abstraksi dari semua ciri material ini disebut
    matesis (matematika mathesis pengetahuan,
    ilmu).

12
Aras abstraksi ketiga - teologi atau filsafat
pertama.
  • Kita dapat meng-"abstrahere" dari semua materi
    dan berfikir tentang seluruh kenyataan, tentang
    asal dan tujuannya, tentang asas pembentukannya,
    dsb.
  • Aras fisika dan aras matematika jelas telah kita
    tinggalkan.
  • Pemikiran pada aras ini menghasilkan ilmu
    pengetahuan yang oleh Aristoteles disebut teologi
    atau filsafat pertama. Akan tetapi karena
    ilmu pengetahuan ini datang sesudah fisika,
    maka dalam tradisi selanjutnya disebut
    metafisika.

13
FILSAFAT DAN HIDUP MANUSIA
  • Karl Popper (1902-?) menulis "semua orang adalah
    filsuf, karena semua mempunyai salah satu sikap
    terhadap hidup dan kematian.
  • Mengingat berfilsafat adalah berfikir tentang
    hidup, dan "berfikir" "to think" (Inggeris)
    "denken" (Jerman), maka - menurut Heidegger
    (1889-1976 ), dalam "berfikir" sebenarnya kita
    "berterimakasih" "to thank" (Inggeris)
    "danken" (Jerman) kepada Sang Pemberi hidup atas
    segala anugerah kehidupan yang diberikan kepada
    kita.

14
DEFINISI NOMINAL
  • PHILOSOPHIE
  • PHILEIN CINTA, KAWAN
  • Apakah Cinta?
  • Cinta (love) adalah suatu dinamika
    (dynamus)
  • yang menggerakkan sesuatu subjek untuk
  • menyatu dengan objeknya, dlm arti diliputi
    dan
  • dipengaruhi oleh objek tersebut.

15
Apakah sophia itu?
  • SOPHIA KEARIFAN, KEBIJAKSANAAN, HIKMAT
  • Menarik juga untuk dicatat bahwa kata "hikmat"
    bahasa Inggerisnya adalah "wisdom", dengan akar
    kata "wise" atau "wissen" (bahasa Jerman) yang
    artinya mengetahui. Dalam bahasa Norwegia itulah
    "viten", yang memiliki akar sama dengan kata
    bahasa Sansekerta "vidya" yang diindonesiakan
    menjadi "widya". Kata itu dekat dengan kata
    "widi" dalam "Hyang Widi" Tuhan. Kata "vidya"
    pun dekat dengan kata Yunani "idea", yang
    dilontarkan pertama kali oleh Socrates/Plato dan
    digali terus-menerus oleh para filsuf sepanjang
    segala abad.
  • Definisi nominal cinta kebijaksanaan, cinta
    kearifan atau hikmat

16
DEFINISI REAL
  • Ilmu pengetahuan tentang segala sesuatu dengan
    meninjaunya dari sebab-musababnya yang mendasar
    dengan kekuatan budi manusia sendiri.
  • Disebut "secara mendasar" karena upaya itu
    dimaksudkan menuju kepada rumusan dari
    sebab-musabab pertama, atau sebab-musabab
    terakhir, atau bahkan sebab-musabab terdalam dari
    obyek yang dipelajari ("obyek material"), yaitu
    "manusia di dunia dalam mengembara menuju
    akhirat".
  • Itulah scientia rerum per causas ultimas --
    pengetahuan mengenai hal ikhwal berdasarkan
    sebab-musabab yang paling dalam.

17
" Cogito, ergosum "-nya Descartes RASIONALISME
  • Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran
    rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan
    kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir
    Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia
    termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme
    akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat
    dan bangkit menjadi seorang yang meyakini
    realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari
    keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari
    dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan
    kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi
    dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya
    adalah indra dan akal.
  • Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan,
    artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti
    dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala
    sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa
    meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia
    meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu
    dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan
    sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya
    adalah " Saya berpikir (baca ragu-ragu), maka
    saya ada ".
  • Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme
    kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan
    premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir
    ada, maka saya ada.

18
OBJEK FILSAFAT
  • OBJEK MATERIAL
  • Obyek material adalah apa yang dipelajari dan
    dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan, yaitu
    gejala "manusia di dunia yang mengembara menuju
    akhirat".
  • Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol,
    yaitu manusia, dunia, dan akhirat. Maka ada
    filsafat tentang manusia (antropologi), filsafat
    tentang alam (kosmologi), dan filsafat tentang
    akhirat (teologi - filsafat ketuhanan kata
    "akhirat" dalam konteks hidup beriman dapat
    dengan mudah diganti dengan kata Tuhan).

19
  • OBJEK FORMAL
  • Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai
    atas obyek material, yang sedemikian khas
    sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang
    kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan
    itu logis, konsisten dan efisien, maka
    dihasilkanlah sistem filsafat.

20
KARAKTERISTIK FILSAFAT
  • Datang sebelum dan sesudah ilmu pengetahuan
  • Menyeluruh
  • Mendasar
  • Spekulatif
  • Sifat reflektif
  • Kritis
  • Kontemplatif.

21
  • Harry Hamersma (199013), filsafat itu datang
    sebelum dan sesudah ilmu.
  • Dikatakan datang sebelum ilmu, karena semua
    ilmu yang khusus, seperti yang banyak terdapat
    dewasa ini, bermula sebagai bagian dari filsafat.
  • Dikatakan filsafat datang sesudah ilmu, karena
    semua ilmu menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang
    melewati batas-batas spesialisasi mereka, yang
    kemudian ditampung oleh filsafat.
  • Tidak mengherankan, bahwa banyak filsuf terkemuka
    di dunia ini, adalah sekaligus ilmuwan-ilmuwan
    besar, seperti Aristoteles, Rene Descartes,
    Auguste Comte, Hegel, Leibniz, Pascal, Hume,
    Immanuel Kant, Whitehead dan Einstein.

22
Magnis-Suseno (199220) menegaskan, bahwa
jawaban-jawaban filsafat itu memang tidak pernah
abadi. Karena itu, filsafat tidak pernah selesai
dan tidak pernah sampai pada akhir sebuah
masalah. Masalah-masalah filsafat adalah
masalah-masalah sebagai manusia, dan karena
manusia di satu pihak tetap manusia, tetapi di
lain pihak berkembang dan berubah,
masalah-masalah baru filsafat adalah
masalah-masalah lama manusia (Magnis-Suseno,
199220).
23
Filsafat (dalam arti ilmu) adalah pengetahuan
yang metodis, sistematis, dan koheren tentang
seluruh kenyataan (menyeluruh dan universal), dan
kemudian (dalam arti pandangan hidup) adalah
petunjuk arah kegiatan (aktivitas) manusia dalam
segala bidang kehidupannya. Filsafat dengan
demikian memiliki paling tidak tiga sifat yang
pokok, yaitu (1) menyeluruh (2) mendasar dan
(3) spekulatif (Suriasumantri, 198520-22). Ciri
lain yang juga penting untuk ditambahkan adalah
sifat reflektif kritis dari filsafat. Refleksi
berarti pengendapan dari apa yang dipikirkan
secara berulang-ulang dan mendalam (kontemplatif).
24
APAKAH FILSAFAT HUKUM ITU?
  • Apakah Filsafat Hukum itu Cabang dari Ilmu Hukum
    ataukah Cabang dari Ilmu Filsafat?
  • Apakah ada hubungan antara Filsafat dengan
    Filsafat Hukum?

25
CABANG-CABANG FILSAFAT
  • Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu
    pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi
    filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat
    teoritis dan filsafat praktis.
  • Filsafat teoretis mencakup (1) ilmu pengetahuan
    alam, seperti fisika, biologi, ilmu pertambangan
    dan astronomi (2) ilmu eksakta dan matematika
    (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika.
  • Filsafat praktis mencakup (1) norma-norma
    (akhlak) (2) urusan rumah tangga (3) sosial dan
    politik.
  • Filusuf adalah orang yang mengetahui semua
    cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi.

26
Metafisika fundamental
FILS TEORETIS
Metafisika Sistematis
Metafisika Alam
Metafisika Manusia
FILSAFAT
FILS HUKUM
Fils Etika
Fils Agama
FILS PRAKTIS
Fils Budaya
Fils Logika
27
Mana pendekatan konsep dan METODE yg tepat?
Pendekatan Filosofis/Ideologis/ Metafisis Thd
HUKUM (I)
Hukum dikonsepsikan sbg Ide Hkm/Cita Hkm/Nilai
Hkm, misal KEADILAN Metode Idealis,
Penafsiran/ Kontemplatif
Hukum dikonsepsikan sbg NORMA HKM/ Perat Hkm/
UU/ Putusan Pengadln Metode Normatif
HUKUM
Pendekatan Normatif Thd HUKUM (II)
Hukum dikonsepsikan sbg INSTITUSI SOSIAL,
terbentuk Dari pola perilaku yg
Melembaga Metode Socio legal
Pendekatan Sosiologis Thd HUKUM (III)
28
Filsafat hukum adalah ilmu yang mempelajari hukum
secara filosofis. Fungsi filsafat adalah
kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan,
menentukan arah dan menuntun pada jalan baru.
Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan
kepada kita untuk menopang dunia baru, mencetak
manusia-manusia yang tergolong ke dalam bebagai
bangsa, ras, dan agama itu mengabdi kepada
cita-cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada
artinya sama sekali apabila tidak universal, baik
dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya
(Poerwantana et al., 1988 8).
29
Filsafat hukum adalah perenungan dan perumusan
nilai-nilai selain itu filsafat hukum juga
mencakup penyerasian nilai-nilai, misalnya
penyerasian antara ketertiban dan ketenteraman,
antara kebendaan (materialisme) dan keakhlakan
(idealisme), antara kelanggengan nilai-nilai
lama (konservatisme) dan pembaruan (Purbacaraka
Soekanto, 1989 11).
30
  • Filsafat Hukum Filsafat Umum yang diterapkan
    pada hukum atau gejala-gejala hukum (makna,
    landasan, struktur dan sejenisnya dari realitas
    hukum). Telaahnya meliputi
  • 1. Ontologi hukum penelitian ttg hakikat dari
  • hukum (hub. Hukum dengan moral).
  • 2. Aksiologi hukum penentuan isi dan nilai
  • (kelayakan, persamaan, keadilan,
    kebebasan).
  • 3. Epistemologi hukum (ajaran pengetahuan).
  • 4. Ideologi hukum (ajaran idea)
  • 5. Teleologi hukum (makna dan tujuan hukum)
  • 6. Ajaran Ilmu dari hukum (metateori dari ilmu
    hukum)
  • 7. Logika Hukum. (Jan Gijssels dan Mark van
    Hoecke)

31
FILSAFAT HUKUM
meta - meta - teori
meta - teori
TEORI HUKUM
meta - teori
DOGMATIKA HUKUM
teori
teori
teori
Hukum Positif
Manakah yg lebih tinggi dan berharga?
32
FILSAFAT HUKUM
Obyek Landasan dan batas-batas kaidah hukum
Tujuan Teoretikal
Perspektif Internal
Teori Kebenaran Teori pragmatik
Proposisi Informatif, tetapi terutama normatif dan evaluatif
33
DOGMATIKA HUKUM
Obyek Hukum positif nasional
Tujuan Teoretikal, tetapi terutama praktikal
Perspektif Internal
Teori Kebenaran Teori pragmatik
Proposisi Informatif, normatif, evaluatif
34
  • Bahasan Pokok
  • Apakah hukum itu, keadilan?
  • Lembaga hukum dan keadilan (hubungan hukum dan
    moral)
  • Berlakunya hukum (moral dan pertanggungjawaban
    hukum)
  • Rechtsidee (pengertian), konsep hukum
  • Pengertian hukum
  • Teori sumber hukum
  • Keberadaan hukum
  • Hak dan kewajiban
  • Hukum dan legitimasi (legalitas)
  • Legal Reasoning juridische legacia
  • Kebebasan, kesadaran, persamaan, kekuasaan
  • Hukum dan kenyataan
  • Filsafah hukum mengkaji problema filosofi
    yang muncul/tampil ke depan karena
    keberadaan/eksistensi hukum dan praktek hukum.

35
Bagi manusia, nilai dijadikan landasan, alasan,
atau motivasi dalam bersikap dan bertingkah laku,
baik disadari maupun tidak. Menurut Radbruch,
ada tiga nilai yang penting bagi hukum, yaitu
1. Individualwerte, nilai-nilai pribadi yang
penting untuk mewujudkan kepribadian
manusia. 2. Gemeinschaftswerte, nilai-nilai
masyarakat, nilai yang hanya dapat
diwujudkan dalam masyarakat manusia. 3.
Werkwerte, nilai-nilai dalam karya manusia
(ilmu, kesenian) dan pada umumnya dalam
kebudayaan.
36
  • Seorang filsuf Indonesia, Notonagoro, membagi
    nilai dalam tiga macam nilai
  • pokok yaitu
  • 1. Material
  • 2. Vital
  • 3. Kerohanian
  • Dikatakan bernilai material apabila sesustu itu
    berguna bagi manusia.
  • Dikatakan bernilai vital jika ia berguna bagi
    manusia untuk dapat mengadakan kegiatan
    (beraktivitas).
  • Dikatakan bernilai kerohanian apabila ia berguna
    bagi rohani manusia.
  • Nilai kerohanian ini dapat dibedakan lebih lanjut
    menjadi
  • Nilai kebenaran atau kenyataan, yang bersumber
    pada unsur akal (rasio) manusia.
  • b. Nilai keindahan, yang bersumber pada unsur
    rasa (estetis) manusia.
  • Nilai kebaikan moral, yang bersumber pada
    kehendak (karsa) manusia.
  • Nilai religius, yang bersumber pada kepercayaan
    manusia, dengan disertai penghayatan melalui akal
    dan budi nuraninya (Darmodiharjo, 199543-44)

37
  • Max Scheler
  • 1. Nilai2 kenikmatan (inderawi) senang-tdk
    senang
  • 2. Nilai kehidupan kesehatan, kesejahteraan
  • 3. Nilai kejiwaan keindahan, kebenaran,
    pengetahuan
  • 4. Nilai kerohanian nilai-nilai pribadi
    (keimanan)

38
NILAI
ATURAN HUKUM Ps. 338 KUHP Barang siapa dengan
sengaja merampas nyawa orang lain , diancam
karena pembunuhan dengan pidana penjara
setinggi-tingginya 15 tahun NORMA (HKM) Orang
dilarang membunuh NILAI Kasih sayang terhadap
sesama manusia.
NORMA
NORMA HUKUM
Apabila masyarakat dgn alat perlengkapannya dpt
memaksakan berlakunya
ATURAN HUKUM
Apabila berbentuk suatu rumusan tertentu
39
KAIDAH-KAIDAH DALAM MASYARAKAT
UNSUR PEMBEDA KAIDAH KEAGAMAAN KAIDAH KEAGAMAAN KAIDAH KEAGAMAAN KAIDAH KESUSILAAN / MORAL KAIDAH SOPAN SANTUN (ETIKET) KAIDAH SOPAN SANTUN (ETIKET) KAIDAH SOPAN SANTUN (ETIKET) KAIDAH SOPAN SANTUN (ETIKET) KAIDAH HUKUM
TUJUAN MENGATUR MENGATUR HIDUP MANUSIA HIDUP MANUSIA SBG UMAT SBG MANUSIA ILAHI MENGATUR MENGATUR HIDUP MANUSIA HIDUP MANUSIA SBG UMAT SBG MANUSIA ILAHI MENGATUR MENGATUR HIDUP MANUSIA HIDUP MANUSIA SBG UMAT SBG MANUSIA ILAHI TERTIB MENGATUR PRGAULAN HIDUP MNUSIA SBG WRG NEG TERTIB MENGATUR PRGAULAN HIDUP MNUSIA SBG WRG NEG
ISI / SASARAN DITUJUKAN DITUJUKAN SIKAP LAHIR SIKAP BATIN DAN BATIN DITUJUKAN DITUJUKAN SIKAP LAHIR SIKAP BATIN DAN BATIN DITUJUKAN KEPADA SIKAP LAHIR DITUJUKAN KEPADA SIKAP LAHIR DITUJUKAN KEPADA SIKAP LAHIR
DASAR WAHYU ILAHI WAHYU ILAHI WAHYU ILAHI KODERAT MANUSIA KONVENSI KEKUASAAN YG KESEPAKATAN SAH, KONSENSUS, KODERAT MAN KONVENSI KEKUASAAN YG KESEPAKATAN SAH, KONSENSUS, KODERAT MAN KONVENSI KEKUASAAN YG KESEPAKATAN SAH, KONSENSUS, KODERAT MAN KONVENSI KEKUASAAN YG KESEPAKATAN SAH, KONSENSUS, KODERAT MAN
SANKSI MENYESAL, HUKUMAN DARI TUHAN MNRT WAHYU MENYESAL, HUKUMAN DARI TUHAN MNRT WAHYU MENYESAL, HUKUMAN DARI TUHAN MNRT WAHYU MENYESAL, MALU THD DIRI SENDIRI DIKECAM, DIKUCILKAN OLEH MASY DIKECAM, DIKUCILKAN OLEH MASY DIKECAM, DIKUCILKAN OLEH MASY DIKECAM, DIKUCILKAN OLEH MASY KENA TINDAKAN HUKUM
DAYA KERJA / PELAKSANAAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN TAK DAPAT DIPAKSAKAN DAPAT DIPAKSAKAN
40
IDEAL
HUKUM
KESUSILAAN
KENYATAAN
KEBIASAAN
41
GUSTAV RADBRUCH
NILAI DASAR DARI HUKUM
KEADILAN
KEGUNAAN
KEPASTIAAN HUKUM
42
SPANNUNGS KETEGANGAN / PEREGANGAN SPANNING
SUATU KETEGANGAN SATU SAMA LAIN
43
KEADILAN SEBAGAI PERSOALAN DALAM FILSAFAT HUKUM
  • Apakah keadilan itu
  • Keadilan adalah kebiasaan baik jiwa untuk secara
    tetap dan terus menerus memberikan kepada orang
    lain apa yang menjadi haknya (keadilan
    subjektif).
  • Keadilan adalah keadaan di mana seseorang
    memperoleh apa yang menjadi haknya (keadilan
    objektif).
  • Apakah dasar keadilan itu?
  • Manusia Pribadi.
  • Kapan keadilan dipersoalkan?
  • COJ Circumstance of Justice

44
Konkretkah Keadilan itu?
  • The doctrine herein developed concerning law in
    general and intuitive law in particular comprises
    all the premises needed to solve the problem of
    the nature of justice actually, justice is
    nothing but intuitive law in our sense. As a real
    phenomenon justice is a psychic phenomenon,
    knowledge of which can be acquired through
    self-observation and the joint method.1
  • 1 Lihat, Leon Petrazycki, Law and Morality,
    Harvard University Press, Cambridge
    Massachusetts, 1955, hlm. 241.

45
PANCASILA
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat dalam
    Permusyawaratan/ Perwakilan.
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

46
Pancasila sbg Rechtsidee
  • Cita Hukum
  • Bintang Pemandu
  • Leitztern
  • Paradigma
  • Fungsi F. Konstitutif dan F. Regulatif

47
Fungsi Konstitutif
  • Fungsi Konstitutif Pancasila harus menjadi dasar
    / menentukan dasar suatu tata hukum yang memberi
    arti dan makna hukum itu sendiri. Tanpa dasar yg
    diberikan oleh Pancasila itu, hukum akan
    kehilangan arti dan maknanya sebagai hukum.

48
Fungsi Regulatif
  • Fungsi Regulatif Pancasila mengarahkan apakah
    suatu hukum positif sebagai produk itu adil atau
    tidak.

49
Pancasila memandu Politik Hukum
  • Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan
    politik hukum yang berbasis moral agama
  • Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi
    landasan politik hukum yang menghargai dan
    melindungi hak-hak asasi manusia yang
    nondiskriminatif
  • Sila Persatuan Indonesia menjadi landasan politik
    hukum untuk mempersatukan seluruh unsur bangsa
    dengan berbagai ikatan primordialnya
    masing-masing
  • Sila Kerakyalan yang dipimpin oleh hikmat
    kebyaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
    menjadi landasan politik hukum yang meletakkan
    kekuasaan di bawah kekuasaan rakyat (demokratis)
    dan
  • Sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
    Indonesia menjadi landasan politik hukum dalam
    hidup bermasyarakat yang berkeadilan sosial
    sehingga mereka yang lemah secara sosial dan
    ekonomis tidak ditindas oleh mereka yang kuat
    secara sewenang-wenang.
  • (Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum,
    Menegakkan Konstitusi, Pustaka LP3ES, Jakarta,
    2006, hlm. 17-18.)

50
Empat Kaidah Penuntun
  • Empat kaidah penuntun yang harus dijadikan
    pedoman dalam
  • pembentukan dan penegakan hukum di Indonesai
  • Hukum harus melindungi segenap bangsa dan
    menjamin keutuhan bangsa dan karenanya tidak
    boleh ada hukum yang menanamkan benih
    disintegrasi.
  • Hukum harus menjamin keadilan sosial dengan
    memberikan proteksi khusus bagi golongan lemah
    agar tidak tereksploitasi dalam persaingan bebas
    melawan golongan yang kuat.
  • Hukum harus dibangun secara demokratis sekaligus
    membangun demokrasi sejalan dengan nomokrasi
    (negara hukum).
  • Hukum tidak boleh diskriminatif berdasarkan
    ikatan primordial apa pun dan harus mendorong
    terciptanya toleransi beragama berdasarkan
    kemanusiaan dan keberadaban.

51
GRUNDNORM Berada di luar dan melandasi
sistem hukum
GRUNDNORM Man soll sich verhalten die
Verfassung vorschreibt
Konkretisasi
Hierarki Logikal
G N Meta yuristic
Ordinasi Sub-ordinasi
Superior Inferior
Konsts
UU
Stufenbau
Piramidal
Perat Pelaks Tkt Nasional
Peraturan Daerah dan Peraturan Desa
Putusan Konkret Ketetapan dan Vonis
TEORI
STUFENBAU THEORY DIADOPSI DARI ADOLF MERKL, HANS
KELSEN VIA JAZIM HAMIDI, HAMID ATTAMIMI, JIMLY
ASSHIDDIQIE
52
HIRARKI NORMA ADOLF MERKL
  • Teori Hirarki Norma dipengaruhi oleh teori Adolf
    Merkl, atau paling tidak Merkl telah menulis
    tentang hirarki norma terlebih dahulu yang
    disebut dengan stairwell structure of legal
    order.
  • 2. Teori Merkl adalah tentang tahapan hukum (die
    lehre vom stufenbau der rechtordnung) yaitu bahwa
    hukum adalah suatu sistem tata aturan hirarkis,
    suatu sistem norma yang mengkondisikan dan
    dikondisikan tindakan hukum.
  • Pembuatan hirarki ini termanisfestasi dalam
    bentuk regresi dari sistem tata hukum yang lebih
    tinggi ke sistem tata hukum yang lebih rendah.
  • Proses ini merupakan proses konkretisasi dan
    individualisasi.
  • (Lihat, Zoran Jelic dalam Jimly Asshiddiqie
    dan Ali Safaat, Teori Hans Kelsen Tentang Hukum,
    Konstitusi Press, Jakarta, 2006, hlm. 109).

53
Mubyarto (1988) Keadilan Sosial Rasa aman dan
tentram, terwujud melalui pemenuhan sarana
materiil berupa kesejahteraan sosial
KEADILAN
BRIAN BARRY
Thomas Aquinas
John Rawls (1971) Good society Fairness dan
Veil Ignorance CoJ Society Scarcity
KEADILAN INDIVIDUAL
KEADILAN SOSIAL
KEADILAN DISTRIBUTIF
DISTRIBUSI
KEADILAN KOMUTATIF
Petrazycki (1955) Justice a real
phenomenon Gunawan Setiardjo Kata suatu
konkret
KEADILAN LEGAL
EKONOMI (UANG)
POLITIK (KUASA)
SOSIAL (STATUS)
Soekarno (1945) Sociale rechtvaardigheid
persamaan politik, ekonomi kesejahteraan
bersama
KEADILAN MIKRO Kehendak Pribadi
KEADILAN MAKRO Kehendak Struktural
Karl Marx Selama produksi berada di tangan
kapitalis, selama itu pula ada masalah
dengan KEADILAN
TAP MPRRI NO. II / 1978 Eka Prasetya
Pancakarsa
BUDHY MUNAWAR- RACHMAN (2004)
TEORI
54
Inkonsistensi Peraturan Pelaksanaan UUSDA thd
Keadilan Sosial
Pancasila Keadilan Sosial
UUD 45
Terselubung Privatisasi
UUSDA
PP No. 16 / 2005 (SPAM)
Jelas Privatisasi
PERPRES 77/ 2007 (SWASTAPAM)
PERMENDAGRI 23/ 2006 (FULL COST RECOVERY)
STUFENBAU THEORY DIADOPSI DARI ADOLF MERKL, HANS
KELSEN VIA JAZIM HAMIDI, HAMID ATTAMIMI, JIMLY
ASSHIDDIQIE
55
HASIL STUDI 3
Pembukaan UUD NRI 1945
PANCASILA
Pasal 33 UUD 1945
Politik Hkm HMN SDA IDEAL
EVOLUSI PH HMN
??
PRIVATISASI PSDA
Politik Hkm HMN SDA Existing
Ketidakadilan Sosial
REKONSTRUKSI
PRISMATIK
DIALEKTIS
KEADILAN SOSIAL
HUKUM PROGRESIF
FRED W. RIGGS
REKONSTRUKSI HMN SDA
MODEL PEMBANGUNAN POLITIK HUKUM
KONSTRUKSI BARU
USUL
56
DIALEKTIKA-PRISMATIK IDEAL-EXISTING

PRISMATIC TYPES OF STATE RIGHT TO UTILIZE
POLITIK HUKUM HMN ATAS SDA EXISTING
POLITIK HKM HMN ATAS SDA IDEAL
HUKUM PROGRESIF
NILAI KEADILAN SOSIAL
57
Apa makna "Keadilan Berdasarkan Ketuhanan YME"?
(Bahasa/istilah/norma yuridis dlm UU-KK)
Jadi bukan hanya Tuntunan UU
Bagaimana Tuntunan Tuhan?
58
Psl. 3 (2) UU4/2004 Peradilan negara
menegak- kan hkm dan keadilan berdasarkan
PS. Psl. 4 (1) UU4/2004 Peradilan dilakukan
Demi Keadilan Berda- sarkan Ketuhanan
YME Psl. 25 (1) UU4/2004 Putusan pengadilan
hrs memuat pasal tertentu per-UU-an atau
sumber hukum tak tertulis. Pasal 28 (1)
UU4/2004 Hakim wajib menggali memahami
nilai-nilai hk dan rasa keadilan yang hidup
dalam masyarakat. Psl. 28 (2) Dalam
mem- pertimbangkan berat ringannya pidana, hakim
wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan
jahat dari terdakwa
Pasal 18 (2) UUD45 Neg. mengakui Masy. hukum
adat hak-hak tradi- sionalnya Pasal 24 (1)
UUD45 Kekuasaan keha- kiman
menyeleng- garakan peradilan guna menegakkan
hukum dan keadilan. Pasal 28D UUD45 Tiap
orang berhak atas kepastian hkm yg adil
persa- maan di hadapan hukum.
PENEGAKAN SISTEM HKM. NASIONAL
PENEGAKAN HK PIDANA
WvS
RAMBU-RAMBU (National Legal Framework)
59
APAKAH MAKNA KEPASTIAN HUKUM?
  • KUHP
  • (Asas Legalitas)
  • lex scripta must be written Certainty of law
    Formal/legal certainty.
  • lex certa must be clear and unambiguous.
  • lex stricta must be narrowly interpreted.
  • SISKUMNAS
  • Ps. 28 D UUD45 kepastian hukum yang adil
  • tidak sekedar kepastian formal (formal/legal
    certainty), tetapi substantive/ material
    certainty

60
Hermeneutik
HABERMAS SINNVERSTEHEN
Asumsi Prdgtikbentuk dan produk perilaku
mans ditntukan oleh interpretasi subjek
Sudut pemahaman thd objek Perilaku
aksi-interaksi
Strategi metodologis To learn from the people
Menghubungkan antara Kaidah dan fakta Momen2
normatif (UU) dgn Momen2 faktual (situasi konkret)
Menggali dan mengkaji Makna2 hkm dr
perspektif pengguna dan/ pencari keadilan
IN ABSTRACTO
IN CONCRETO
Keragaman Maknawi thd Fakta yg dikaji sbg objek
I. SCHLEIERMACHER GRAMATIKAL, PSIKOLOGIS
III. GADAMER PROSES HISTORIKAL, DIALEKTIKAL,
KEBAHASAAN
II. WILHELM DILTHEY REPRODUKTIF,
REKONSTRK LINGKAR PENAFSIRAN PROGRESIF (SPIRAL)
HERMENEUTIK KLASIK TEKS
DUE HERMENEUTIK KONTEKS
TEORI
About PowerShow.com