MIKROBA SALURAN NAFAS - PowerPoint PPT Presentation

Loading...

PPT – MIKROBA SALURAN NAFAS PowerPoint presentation | free to view - id: 4f970f-ODUwO



Loading


The Adobe Flash plugin is needed to view this content

Get the plugin now

View by Category
About This Presentation
Title:

MIKROBA SALURAN NAFAS

Description:

MIKROBA SALURAN NAFAS Lindawati Alimsardjono Departemen Mikrobiologi Kedokteran F.K. UNAIR Surabaya, 30 Maret 2009 ... – PowerPoint PPT presentation

Number of Views:294
Avg rating:3.0/5.0
Slides: 118
Provided by: SONY3
Category:

less

Write a Comment
User Comments (0)
Transcript and Presenter's Notes

Title: MIKROBA SALURAN NAFAS


1
MIKROBA SALURAN NAFAS
  • Lindawati Alimsardjono
  • Departemen Mikrobiologi Kedokteran
  • F.K. UNAIR
  • Surabaya, 30 Maret 2009

2
Anatomi dan Fisiologi
  • Saluran nafas
  • Saluran nafas atas
  • Saluran nafas bawah

3
Mucociliary Escalator
  • Mucus sel goblet
  • Silia 1.000 x per menit
  • Kerusakan gerakan silia ? infeksi ?
  • Infeksi virus
  • Merokok
  • Alkohol
  • Narkotik

4
Normal steril
  • Sel mastoid
  • Telinga tengah
  • Sinus
  • Trachea
  • Bronchi
  • Bronchioles
  • Alveoli

5
Flora normal
  • Nasal cavity
  • Nasopharynx
  • Pharynx
  • Mikroba
  • Aerob
  • Fakultatif anaerob
  • Aerotolerant
  • Anaerob

6
Flora normal dari sistim respiratorius
  • Staphylococcus
  • Corynebacterium
  • Moraxella
  • Haemophilus
  • Bacteriodes
  • Streptococcus

7
Mikroba Penyebab Infeksi Saluran Nafas
  • Bakteri
  • Virus
  • Jamur

8
Infeksi Saluran Nafas
  • Infeksi saluran nafas atas
  • Infeksi saluran nafas bawah

9
Infeksi saluran nafas atas
  • Kepala dan leher
  • gtgtgt tidak enak, tetapi tidak mengancam hidup
    dan sembuh tanpa terapi sekitar 1 minggu
  • Beberapa minor komponen saluran nafas atas,
    tapi mengenai kulit, paru, sistim saraf, atau
    bagian lain dari tubuh
  • Gejala mayor mata, hidung, tenggorok, telinga
    bagian tengah, sinus, dan sistim tubuh lainnya

10
Infeksi saluran nafas bawah
  • Dada
  • Sistim saluran nafas bawah biasanya steril,
    terproteksi dengan baik dari kolonisasi
    mikroorganisme
  • Kadang patogen dapat lolos dari pertahanan tubuh
    dan menyebabkan penyakit yang serius, seperti
    pneumonia, tuberkulosis, atau batuk rejan

11
Struktur yang terlibat dalam infeksi saluran
nafas atas
  • Conjunctiva ? conjunctivitis
  • Nasolacrimal atau saluran airmata ?
    dacryocystitis
  • Telinga bagian tengah ? otitis media
  • Bagian yang terisi udara dari kepala, sinus dan
    sel udara mastoid ? sinusitis dan mastoiditis
  • Hidung ? rhinitis
  • Tenggorok atau pharynx ? pharyngitis
  • Epiglottis ? epipglottitis

12
Struktur yang terlibat dalam infeksi saluran
nafas bawah
  • Pita suara atau larynx ? laryngitis
    (hoarseness/parau)
  • Windpipe atau trachea ? 2 bronchi ? bronchitis
    (infeksi atau merokok)
  • Bronchioles ? bronchiolitis
  • Alveoli
  • Inflamasi paru ? pneumonitis ? pneumonia (akibat
    alveoli terisi pus dan cairan)
  • Pleura ? pleurisy (nyeri dada hebat saat bernafas
    atau batuk)

13
Infeksi saluran nafas
  • Bakteri
  • Virus
  • Jamur

14
Infeksi bakteri pada saluran nafas atas
  • Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Diphtheria
  • Pinkeye, Earache, dan Sinus Infections

15
Infeksi virus pada saluran nafas atas
  • Common cold
  • Adenoviral pharyngitis

16
Infeksi bakteri pada saluran nafas bawah
  • Pneumococcal pneumonia
  • Klebsiella pneumonia
  • Mycoplasmal pneumonia
  • Whooping cough (Pertussis)
  • Tuberculosis
  • Legionnaires disease

17
Infeksi virus pada saluran nafas bawah
  • Influenza
  • Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Hantavirus Pulmonary Syndrome

18
Infeksi jamur pada saluran nafas bawah
  • Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Spelunkers disease (Histoplasmosis)

19
(No Transcript)
20
Corynebacterium diphtheriae
  • Genus Corynebacterium
  • Morfologi
  • Batang Gram positif
  • Sifat
  • Aerobik dan fakultatif anaerob
  • Tumbuh baik pada medium yang mengandung darah
    atau serum
  • 3 biotipe gravis, intermedius, mitis
  • Penyebab difteri
  • Pewarnaan Neisser granula metakhromatik
  • Medium perbenihan
  • Loefflers medium / Pai medium
  • Imunisasi DPT

21
Streptococcus pyogenes
  • Family Streptococcaceae
  • Genus Streptococcus
  • Morfologi
  • Kokus Gram positif, rantai
  • Sifat
  • ? hemolisa
  • Penyebab sore throat, pharyngitis
  • Post Streptococcal diseases Rheumatic fever,
    acute glomerulo nephritis ? ASO titer

22
Streptococcus pneumoniae
  • Family Streptococcaceae
  • Genus Streptococcus
  • Morfologi
  • Diplokokus Gram positif, lancet, berkapsul
  • Sifat
  • ? hemolisa
  • Uji kepekaan Optochin zona hambat ()
  • Fermentasi Inulin ()
  • Bile solubility ()
  • Reaksi Quellung ()

23
Klebsiella pneumoniae
  • Family Enterobacteriaceae
  • Genus Klebsiella
  • Morfologi
  • Batang Gram negatif
  • Sifat
  • Fakultatif anaerob
  • Koloni mukoid
  • Medium perbenihan
  • Mac Conkey medium

24
Mycoplasma pneumoniae
  • Tidak mempunyai dinding sel
  • Medium perbenihan
  • Kaya dengan komponen yang tidak dapat disintesis
    mikroba tersebut
  • Penyebab pneumonia

25
Bordetella pertussis
  • Penyebab Whooping cough batuk rejan batuk
    100 hari
  • Morfologi
  • Batang Gram negatif
  • Sifat
  • Strict aerob
  • Suhu optimal tumbuh 35-36?C 3 hari
  • Medium perbenihan
  • Bordet-Gengou medium
  • Imunisasi DPT

26
Mycobacterium tuberculosis
  • Family Mycobacteriaceae
  • Genus Mycobacterium
  • Morfologi
  • Batang tahan asam (merah Z.N.)
  • Sifat
  • Obligate aerob
  • Media perbenihan
  • Medium Lowenstein Jensen (LJ)
  • Medium Middlebrook 7H9 / 7H10
  • Medium Ogawa
  • Medium Kudoh
  • Penyebab tuberkulosis
  • Vaksinasi BCG

27
Legionella pneumophila
  • Genus Legionella
  • Penyakit
  • Legionnairess disease
  • Pontiac fever
  • Morfologi
  • Batang pendek atau kokobasil Gram negatif (lemah)
  • Pengecatan
  • Metode impregnasi perak (non spesifik)
  • Specific fluorescent antibody stain - diagnostik
  • Medium perbenihan
  • Medium BCYE inkubasi 48 jam - 36?C 2.5 CO2
    sampai 10-14 hari
  • Material terkontaminasi panasi 50?C selama 30
    menit

28
Influenza virus
  • Family Orthomyxoviridae
  • 3 Tipe
  • Influenza tipe A
  • Influenza tipe B
  • Influenza tipe C
  • Nomenklatur Tipe/asal hospes/asal
    geografik/nomor strain/tahun isolasi/deskripsi
    antigenik dari hemaglutinin dan neuraminidase
  • 468

29
Respiratory Syncytial Virus
  • Family Paramyxoviridae
  • Genus Pneumovirus

30
Hantavirus
  • Termasuk Bunyavirus
  • ? hewan pengerat
  • 498-499

31
Coccidioides immitis
  • Penyebab Coccidioidomycosis
  • 568

32
Histoplasma capsulatum
  • Penyebab Histoplasmosis
  • 569

33
(No Transcript)
34
Infeksi bakteri pada saluran nafas atas
  • Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Diphtheria
  • Pinkeye, Earache, dan Sinus Infections

35
Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Gejala
  • Red throat, sering dengan pus dan sedikit
    hemoragis, pembesaran dan lunak kelenjar limfe
    leher
  • Jarang pembentukan abses yang melibatkan tonsil
  • Kadang demam reumatik dan glomerulonephritis
    sebagai akibat

36
Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Masa inkubasi
  • 2 5 hari
  • Agen penyebab
  • Streptococcus pyogenes Lancefield group a
    ?-hemolytic Streptococcus

37
Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Patogenesis
  • Virulensi berasosiasi dengan kapsul asam
    hialuronik dan protein M, keduanya menghambat
    fagositosis
  • Protein G mengikat segmen Fc dari IgG
  • Protein F untuk perlekatan mukosal
  • Multipel enzim

38
Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Epidemiologi
  • Kontak langsung dan infeksi droplet
  • Ingesti makanan terkontaminasi

39
Strep throat (Streptococcal Pharyngitis)
  • Prevensi dan Terapi
  • Hindari kerumunan
  • Ventilasi adekuat
  • Penicillin setiap hari untuk mencegah infeksi
    rekuren pada mereka dengan riwayat penyakit
    jantung reumatik
  • Terapi 10 hari dengan Penicillin atau
    Erythromycin

40
Diphtheria
  • Gejala
  • Sore throat
  • Demam
  • Fatique
  • Malaise
  • Pseudomembrane di tonsil dan tenggorok atau di
    hidung
  • Paralisis
  • Gagal jantung dan ginjal

41
Diphtheria
  • Masa inkubasi
  • 2 6 hari
  • Agen penyebab
  • Corynebacterium diphtheriae batang Gram
    positif, menghasilkan toksin, tidak membentuk
    spora

42
Diphtheria
  • Patogenesis
  • Infeksi saluran nafas atas
  • Pelepasan eksotoksin dan diabsorbsi oleh aliran
    darah
  • Toksin membunuh sel dengan mempengaruhi sintesis
    protein
  • Efek terjadi pada sel yang mempunyai reseptor
    terhadap toksin terutama jantung, ginjal, dan
    jaringan saraf

43
Diphtheria
  • Epidemiologi
  • Inhalasi droplet infeksius
  • Kontak langsung dengan pasien atau carrier
  • Kontak tidak langsung dengan barang-barang
    terkontaminasi

44
Diphtheria
  • Prevensi dan Terapi
  • Imunisasi toksoid difteria anak 6 minggu, 4
    bulan, 6 bulan, 18 bulan, dan 4-6 tahun
  • Booster setiap 10 tahun
  • Terapi antitoksin erythromycin untuk mencegah
    transmisi

45
Infeksi virus pada saluran nafas atas
  • Common cold
  • Adenoviral pharyngitis

46
Common cold
  • Gejala
  • Scratchy throat
  • Nasal discharge
  • Malaise
  • Sakit kepala
  • Batuk

47
Common cold
  • Masa inkubasi
  • 1 2 hari
  • Agen penyebab
  • Rhinovirus (utama) - gt 100 tipe
  • gtgt virus lain
  • Beberapa bakteri

48
Common cold
  • Patogenesis
  • Virus melekat epitel respiratori, mulai infeksi
    yang menyebar ke adjacent cells
  • Gerakan silia berhenti dan sel mengelupas
  • Sekrasi mukus ?
  • Reaksi inflamasi ()
  • Infeksi berhenti dengan pengeluaran interferon
    dan produksi antibodi

49
Common cold
  • Epidemiologi
  • Inhalasi droplet yang terinfeksi
  • Transfer mukus infeksius ke hidung atau mata oleh
    jari yang terkontaminasi
  • Anak menginisiasi banyak wabah dalam famili
    karena kurangnya perawatan sekret nasal

50
Common cold
  • Prevensi dan Terapi
  • Cuci tangan
  • Hindari orang dengan colds dan sentuhan muka
  • Tidak ada terapi umum yang dianjurkan kecuali
    untuk mengendalikan gejala, meskipun antiviral
    pleconaril - menjanjikan

51
Adenoviral pharyngitis
  • Gejala
  • Demam
  • Sangat sore throat
  • Batuk berat
  • Pembengkakan kelenjar limfe leher
  • Pus di tonsil dan tenggorok
  • Conjunctivitis
  • Jarang pneumonia

52
Adenoviral pharyngitis
  • Masa inkubasi
  • 5 10 hari
  • Agen penyebab
  • Adenovirus - gt 45 tipe

53
Adenoviral pharyngitis
  • Patogenesis
  • Virus bermultiplikasi di sel hospes
  • Terdapat destruksi sel dan inflamasi
  • Tipe berbeda menghasilkan gejala berbeda

54
Adenoviral pharyngitis
  • Epidemiologi
  • Inhalasi droplet terinfeksi
  • Penyebaran dari GI tract mungkin

55
Adenoviral pharyngitis
  • Prevensi dan Terapi
  • Vaksin virus hidup sebelumnya digunakan militer
    tidak diproduksi lagi
  • Tanpa terapi, kecuali untuk mengurangi gejala

56
Infeksi bakteri pada saluran nafas bawah
  • Pneumococcal pneumonia
  • Klebsiella pneumonia
  • Mycoplasmal pneumonia
  • Whooping cough (Pertussis)
  • Tuberculosis
  • Legionnaires disease

57
Pneumococcal pneumonia
  • Gejala
  • Batuk
  • Demam
  • Menggigil
  • Sputum kecoklatan degradasi darah
  • Nafas pendek
  • Nyeri dada

58
Pneumococcal pneumonia
  • Masa inkubasi
  • 1 3 hari
  • Agen penyebab
  • Pneumococcus Streptococcus pneumoniae, strain
    berkapsul

59
Pneumococcal pneumonia
  • Patogenesis
  • Inhalasi pneumococci berkapsul
  • Kolonisasi alveoli ? respons inflamasi
  • Plasma, darah, dan sel radang mengisi alveoli
  • Nyeri akibat terlibatnya ujung saraf

60
Pneumococcal pneumonia
  • Epidemiologi
  • Angka carrier Streptococcus pneumoniae tinggi
  • Resiko pneumonia ? pada alkoholism, pengguna
    narkotik, penyakit paru kronik, dan infeksi virus
    yang merusak mucociliary escalator.
  • Faktor predisposisi lainnya penyakit jantung
    kronik, diabetes, dan kanker

61
Pneumococcal pneumonia
  • Prevensi dan Terapi
  • Capsular vaccine tersedia 23 antigen kapsular
  • Conjugate vaccine untuk bayi
  • Terapi penicillin, erythromycin, dan lainnya

62
Klebsiella pneumonia
  • Gejala
  • Menggigil
  • Demam
  • Batuk
  • Nyeri dada
  • Grossly bloody, mucoid sputum

63
Klebsiella pneumonia
  • Masa inkubasi
  • 1 3 hari
  • Agen penyebab
  • Klebsiella pneumoniae - enterobacterium

64
Klebsiella pneumonia
  • Patogenesis
  • Aspirasi kolonisasi droplet mukus dari tenggorok
  • Destruksi jaringan paru dan sering pembentukan
    abses
  • Infeksi menyebab lewat darah ke jaringan tubuh
    lainnya

65
Klebsiella pneumonia
  • Epidemiologi
  • Sering resisten terhadap antibiotik, dan
    kolonisasi individu yang meminumnya
  • Klebsiella sp. Dan batang Gram negatif lainnya
    sering merupakan penyebab pneumonia nosokomial
    yang fatal

66
Klebsiella pneumonia
  • Prevensi dan Terapi
  • Vaksin (-)
  • Cephalosporin dengan aminoglycoside

67
Mycoplasmal pneumonia
  • Gejala
  • Gradual onset of cough
  • Demam
  • Produksi sputum
  • Sakit kepala
  • Fatique
  • Nyeri otot

68
Mycoplasmal pneumonia
  • Masa inkubasi
  • 2 3 minggu
  • Agen penyebab
  • Mycoplasma pneumoniae dinding sel (-)

69
Mycoplasmal pneumonia
  • Patogenesis
  • Sel lekat pada reseptor spesifik epitel
    respiratori
  • Penghambatan gerakan silia dan diikuti destruksi
    sel

70
Mycoplasmal pneumonia
  • Epidemiologi
  • Inhalasi droplet terinfeksi
  • Sering infeksi ringan dan membantu penyebartan
    penyakit

71
Mycoplasmal pneumonia
  • Prevensi dan Terapi
  • Vaksin (-)
  • Hindari kerumunan di fasilitas sekolah dan
    militer
  • Terapi tetracycline atau erythromycin

72
Whooping cough (Pertussis)
  • Gejala
  • Runny nose
  • Beberapa hari batuk hebat dengan spasme
  • Muntah
  • Mungkin kejang

73
Whooping cough (Pertussis)
  • Masa inkubasi
  • 7 21 hari
  • Agen penyebab
  • Bordetella pertussis batang Gram negatif

74
Whooping cough (Pertussis)
  • Patogenesis
  • Kolonisasi pada permukaan saluran nafas atas dan
    sistim tracheobronchial
  • Gerakan silia lambat
  • Toksin yang dilepaskan oleh Bordetella pertussis
    menyebabkan kematian sel epitel dan peningkatan
    cAMP
  • Demam, pengeluaran mukus yang berlebihan, dan
    peningkatan jumlah limfosit dalam aliran darah

75
Whooping cough (Pertussis)
  • Epidemiologi
  • Inhalasi droplet terinfeksi
  • Anak lebih besar dan dewasa gejala ringan

76
Whooping cough (Pertussis)
  • Prevensi dan Terapi
  • Acellular vaccine, untuk imunisasi bayi dan anak
  • Erythromycin efektif bila diberikan sebelum
    mulai batuk dengan spasm, mengeliminasi
    Bordetella pertussis

77
Tuberculosis
  • Gejala
  • Demam kronik
  • BB ?
  • Batuk
  • Produksi sputum

78
Tuberculosis
  • Masa inkubasi
  • 2 10 minggu
  • Agen penyebab
  • Mycobacterium tuberculosis - BTA

79
Tuberculosis
  • Patogenesis
  • Kolonisasi alveoli ? respons inflamasi
  • Ingesti oleh makrofag ? organisme survive ?
    kelenjar limfe, paru dan jaringan tubuh lainnya
  • Basil tuberkel multiplikasi
  • Bentuk granuloma

80
Tuberculosis
  • Epidemiologi
  • Inhalasi organisme airborne
  • Infeksi latent dapat reaktivasi

81
Tuberculosis
  • Prevensi dan Terapi
  • Vaksinasi BCG
  • Tuberculin (Mantoux) test deteksi infeksi
  • Terapi kasus dini
  • Terapi orang muda dengan tes positif dan individu
    dengan konversi tes kulit dari negatif ke positif

82
Tuberculosis
  • Prevensi dan Terapi
  • 2 atau lebih OAT

83
Legionnaires disease
  • Gejala
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Batuk
  • Nafas pendek
  • Nyeri dada dan abdominal
  • Diare

84
Legionnaires disease
  • Masa inkubasi
  • 2 10 hari
  • Agen penyebab
  • Legionella pneumophila bakteri Gram negatif
    (sulit spesimen klinik) anggota ? -
    proteobacteria

85
Legionnaires disease
  • Patogenesis
  • Organisme multiplikasi dalam fagosit dikeluarkan
    dengan sel yang mati nekrosis sel sepanjang
    alveoli inflamasi, dan membentuk mikroabses

86
Legionnaires disease
  • Epidemiologi
  • Awal terutama dari kontaminasi air hangat dengan
    mikroorganisme lain, sperti yang dijumpai pada
    sistim AC

87
Legionnaires disease
  • Prevensi dan Terapi
  • Hindari aerosol air yang terkontaminasi
  • Bersihkan dan disinfeksi alat pelembab secara
    teratur
  • Terapi erythromycin dan rifampin

88
Infeksi virus pada saluran nafas bawah
  • Influenza
  • Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Hantavirus Pulmonary Syndrome

89
Influenza
  • 3 tipe
  • Tipe A
  • Tipe B
  • Tipe C

90
Influenza
  • Gejala
  • Demam
  • Nyeri otot
  • Kurang energi
  • Sakit kepala
  • Sore throat
  • Nasal congestion
  • Batuk

91
Influenza
  • Masa inkubasi
  • 1 2 hari
  • Agen penyebab
  • Virus influenza - orthomyxovirus

92
Influenza
  • Patogenesis
  • Infeksi epitel respiratori
  • Sel dirusak dan virus dilepaskan untuk
    menginfeksi sel lain
  • Infeksi bakterial sekunder akibat kerusakn
    mucociliary escalator

93
Influenza
  • Epidemiologi
  • Antigenic drift dan antigenic shift

94
Influenza
  • Prevensi dan Terapi
  • Vaksin 80-90 efektif
  • Amantidine dan Rimantadine efektif mencegah
    influenza tipe A, bukan tipe B
  • Neuraminidase inhibitor efektif untuk virus A
    dan B
  • Obat yang efektif untuk terapi bila diberikan
    awal penyakit

95
Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Gejala
  • Runny nose
  • Batuk
  • Demam
  • Wheezing
  • Sulit bernafas
  • Dusky color

96
Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Masa inkubasi
  • 1 4 hari
  • Agen penyebab
  • RSV paramyxovirus yang memproduksi syncytia

97
Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Patogenesis
  • Epitel respiratori dan respons inflamasi menutup
    bronchioles, menyebabkan bronchiolitis
  • Pneumonia akibat inflamasi bronchiolar dan
    alveolar, atau infeksi sekunder

98
Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Epidemiologi
  • Epidemi setiap tahun selama bulan dingin
  • Penyebaran oleh anak yang agak besar dan dewasa
    yang sehat yang sering mempunyai gejala ringan
  • Tanpa imunitas akhir

99
Respiratory Syncytial Virus Infection
  • Prevensi dan Terapi
  • No vaccine
  • Pencegahan dengan injeksi antibodi monoklonal
  • Tidak ada terapi antiviral yang memuaskan

100
Hantavirus Pulmonary Syndrome
  • Gejala
  • Demam
  • Nyeri otot
  • Muntah
  • Diare
  • Batuk
  • Nafas pendek
  • Shock

101
Hantavirus Pulmonary Syndrome
  • Masa inkubasi
  • 3 hari 6 minggu
  • Agen penyebab
  • Sin Nombre dan related hantavirus dari famili
    Bunyavirus

102
Hantavirus Pulmonary Syndrome
  • Patogenesis
  • Antigen virus terletak dalam dinding kapiler
    paru inflamasi

103
Hantavirus Pulmonary Syndrome
  • Epidemiologi
  • Zoonosis ? populasi tikus ??
  • Umumnya tidak ada penyebaran antar manusia

104
Hantavirus Pulmonary Syndrome
  • Prevensi dan Terapi
  • Hindari kontak dengan hewan pengerat
  • Tutupi jalan masuk ke tempat persediaan makanan
    di rumah
  • Ventilasi yang baik
  • Hindari debu
  • Gunakan disinfektan saat membersihkan area yang
    terkontaminasi hewan pengerat
  • Tidak terbukti adanya terapi antiviral

105
Infeksi jamur pada saluran nafas bawah
  • Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Spelunkers disease (Histoplasmosis)

106
Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Orang yang terpapar debu dan tanah, seperti
    petani ? terinfeksi, tapi hanya 40 yang
    memberikan gejala

107
Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Gejala
  • Demam, batuk, nyeri dada, hilang selera makan dan
    BB
  • Jarang nodul yang nyeri pada ekstremitas, nyeri
    sendi
  • Kadang kulit, membrana mukosa, otak, dan organ
    dalam

108
Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Masa inkubasi
  • 2 hari 3 minggu
  • Agen penyebab
  • Coccidioides immitis fungus dimorfik

109
Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Patogenesis
  • Setelah masuk dalam paru, arthrospora berkembang
    jadi sphere yang matur dan mengeluarkan endospora
    yang masing-2 berkembang menjadi sphere yang
    lain respons inflamasi merusak jaringan
    hipersensitivitas terhadap antigen fungal
    menyebabkan nodul yang nyeri dan nyeri sendi

110
Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Epidemiologi
  • Inhalasi spora Coccidioides immitis dengan debu
    dari tanah yang ditumbuh organisme

111
Valley Fever (Coccidioidomycosis)
  • Prevensi dan Terapi
  • Metode kontrol debu seperti tanaman rumput dan
    pengairan
  • Terapi Amphotericin B dan Fluconazole

112
Spelunkers disease (Histoplasmosis)
  • Seperti Coccidioidomycosis
  • Biasanya jinak
  • Kadang mirip TB
  • Jarang
  • Bentuk serius AIDS atau imunodefisiensi yang
    lain
  • gt menyebar luas

113
Spelunkers disease (Histoplasmosis)
  • Gejala
  • Gejala Respiratori ringan
  • Jarang demam, nyeri dada, batuk, chronic sores

114
Spelunkers disease (Histoplasmosis)
  • Masa inkubasi
  • 5 - 8 hari
  • Agen penyebab
  • Histoplasma capsulatum fungus dimorfik

115
Spelunkers disease (Histoplasmosis)
  • Patogenesis
  • Inhalasi spora, berubah jadi fase yeast,
    multiplikasi dalam makrofag bentuk granuloma
    penyakit menyebar pada individu dengan AIDS atau
    imunodefisiensi lainnya

116
Spelunkers disease (Histoplasmosis)
  • Epidemiologi
  • Fungus lebih senang tumbuh dalam tanah
    terkontaminasi oleh kotoran burung atau
    kelelawar, terutama di USA
  • Distribusi setitik pada banyak negara lain di
    seluruh dunia

117
Spelunkers disease (Histoplasmosis)
  • Prevensi dan Terapi
  • Hindari tanah terkontaminasi dengan kotoran ayam,
    burung, atau kelelawar
  • Terapi Amphotericin B dan Itraconazole untuk
    infeksi serius
About PowerShow.com