KOMPENDIUM - PowerPoint PPT Presentation

View by Category
About This Presentation
Title:

KOMPENDIUM

Description:

KOMPENDIUM KAJIAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN Dikoleksi oleh: Etik Setyaningsih, Irwan Zulkifli Matondang, dan Soemarno PM PSLP PPSUB, MALANG ... – PowerPoint PPT presentation

Number of Views:185
Avg rating:3.0/5.0
Slides: 131
Provided by: Hagu6
Category:

less

Write a Comment
User Comments (0)
Transcript and Presenter's Notes

Title: KOMPENDIUM


1
KOMPENDIUM KAJIAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN
KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN Dikoleksi
oleh Etik Setyaningsih, Irwan Zulkifli
Matondang, dan Soemarno PM PSLP PPSUB, MALANG
2012
2
Kemiskinan Menjadi Pemicu Kerusakan Lingkungan
Faktor kemiskinan adalah salah satu pemicu dari
rusaknya lingkungan, sehingga akhirnya dapat
menyebabkan bencana alam yang menimbulkan
jatuhnya korban. Seperti yang terjadi pada hari
Senin (04/10/2010) di Wasior. Kemiskinan telah
membuat sebagian masyarakat untuk memanfaatkan
lingkungan, dengan menghalalkan cara-cara yang
kurang bijak. Hal itu juga terjadi hingga tataran
pemerintahan daerah. Kebijakan publik yang
diterapkan pemerintah sudah cukup berpihak kepada
konservasi lingkungan. Namun pemerintah daerah
terkadang mengabaikan kebijakan tersebut, dan
menerapkan kebijakan-kebijakan lokal yang kurang
ramah lingkungan. Menurut Direktur Eksekutif
WALHI, pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
belum sinergis dalam menjalankan kebijakan
berorientasi lingkungan, perangkat hukum yang ada
juga masih kurang. (Tribunnews.com - Sabtu, 9
Oktober 2010 1240 WIB)
Hubungan timbal-balik antara masalah lingkungan
dan kemiskinan  berpangkal dari konsep
pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu akar
masalah kemiskinan adalah akibat dari kegiatan
pembangunan yang dilakukan secara
tidak  berkelanjutan. Eksploitasi sumberdaya alam
secara berlebihan, secara langsung dan tidak
langsung, berdampak negatif terhadap kelangsungan
fugnsi produktif sumberdaya alam dan kondisi
kesehatan masyarakat di sekitar lokasi
eksploitasi. Selain sumberdaya alam yang semakin
terkuras, memburuknya polusi dan perubahan iklim
juga mengindikasikan tidak adanya keberlanjutan
ekologis, yang pada akhirnya memperburuk fenomena
kemiskinan. Oleh karena itu, upaya-upaya
perbaikan kondisi lingkungan diharapkan dapat
membantu menurunkan kemiskinan atau memperbaiki
tingkat kesejahteraan masyarakat.
Sumber http//www.tribunnews.com/2010/10/09/kemis
kinan-menjadi-pemicu-kerusakan-lingkungan .
Diunduh 3/4/2012
3
RUMAH TANGGA MISKIN
  • Rumah tangga miskin yakni rumah tangga sebagai
    disebut BPS, Litbang Kompas, dan Bappenas (Kompas
    Mei 2008) dengan ciri- ciri sebagai berikut
  • Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8
    meter persegi per orang
  • Lantai tempat tinggal dari tanah / bambu/ kayu
    murahan
  • Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu /
    rumbia/ kayu berkualitas rendah / tembok tanpa
    diplester
  • Tidak memiliki fasilitas buang air / bersama-
    sama dengan rumah tangga lain
  • Penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik
  • Sumber air minum dari sumur/mata air tidak
    terlindungi/ sungai / air hujan
  • Bahan bakar untuk rumah tangga berupa kayu/
    arang/ minyak tanah
  • Mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali seminggu
  • Hanya membeli satu setel pakaian baru dalam
    setahun
  • Hanya sanggup membayar biaya pengobatan di
    puskesmas
  • Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah
    petani dengan lahan garapan kurang dari 0,5 ha,
    buruh tani, nelayan, buruh bangunan,buruh
    perkebunan,atau pekerjaan lain dengan pendapatan
    kurang dari Rp 600 000 per bulan
  • Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak
    sekolah /tidak tamat SD
  • Tidak memiliki tabungan / barang berharga yang
    mudah dijual dengan nilai minimal Rp 500 000
    sepeda motor dengan kredit, emas, ternak, kapal
    motor, barang modal lainnya.
  • .

Sumber http//staff.uny.ac.id/sites/default/fil
es/KEMISKINAN20DAN20LINGKUNGAN20HIDUP.pdf.
Diunduh 3/4/2012
4
KERUSAKAN LINGKUNGAN
Lingkungan hidup meliputi sumberdaya alam yang
punya kemampuan untuk recovery, namun oleh
tekanan aktifitas manusia yang semakin menguat
dibanding laju pemulihan sumberdaya alam yang
lambat maka akan terjadi degradasi bahkan
kerusakan sumberdaya alam yang semakin cepat.
Tekanan penduduk apabila tidak sebanding dengan
ketersediaan sumberdaya alam tentu saja akan
memperlambat pemulihan sumberdaya alam.
Kerusakan lingkungan dapat terjadi apabila
intensitas tekanan terhadap lingkungan
berlangsung secara terus menerus sehingga upaya
pembangunan berwawasan lingkungan sangat
diperlukan agar lingkungan tetap lestari.
Kekeliruan pengelolaan lingkungan akan berdampak
fatal pada kerusakan lingkungan yang
berkepanjangan hingga tanpa dapat diperbaiki lagi
dalam jangka panjang. Kondisi seperti ini akan
dapat menimbulkan bencana lingkungan. .
Goncangan lingkungan pada tingkat mikro
mempengaruhi jumlah penduduk yang lebih sedikit.
Penduduk miskin biasanya hidup di wilayah-wilayah
marjinal, rumah dan lahan usahanya mempunyai
resiko tinggi terkena dampak akibat bencana
kekeringan, banjir, tanah longsor, wabah penyakit
(endemik) dan sejenisnya. Kelompok wanita miskin
khususnya sering paling rentan dan menanggung
konsekuensi dari berkurangnya konsumsi makanan,
terjangkitnya penyakit, dan kebutuhan untuk
membangun lagi tempat tinggal. Bencana
lingkungan dapat mempengaruhi kemiskinan baik
secara jangka pendek maupun jangka panjang.
Bencana tentunya memperburuk keterpurukan ekonomi
dalam jangka pendek. Bencana juga dapat
mempengaruhi kesejahteraan ekonomi rumahtangga
dalam jangka panjang, ketika upaya untuk bertahan
hidup mutlak memerlukan modal atau investasi,
misalnya modal direncanakan untuk membiayai
pendidikan anak-anak di masa mendatang.
Kerusakan lingkungan dan bencana alam juga telah
menyebabkan para korban, yang kebanyakan adalah
orang miskin, meninggalkan rumah-rumah mereka
untuk mengungsi atau pindah ke lokasi lain yang
lebih baik. Pengungsi korban bencana alam
mengalir ke kota-kota di mana mereka menambah
jumlah orang miskin yang juga hidup di lahan
marjinal dan beresiko terhadap bencana. (sumber
http//www.scribd.com/doc/33400040/Pengelolaan-Lin
gkungan-Hidup-Yang-Berkelanjutan-Dan-Strategi-Pena
nggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-
Oktober-2004)
Sumber http//staff.uny.ac.id/sites/default/fil
es/KEMISKINAN20DAN20LINGKUNGAN20HIDUP.pdf.
Diunduh 3/4/2012
5
Kemiskinan Penyebab Kerusakan Lingkungan
Hidup? Syukri Muhammad Syukri, www.kompasiana.com
/MuhammadSyukri 03 March 2012 0056
Pendapat sejumlah pakar lingkungan hidup
menyatakan bahwa kemiskinan menyebabkan tekanan
terhadap lingkungan makin tinggi. Oleh karena
itu, kemiskinan harus dientaskan supaya
lingkungan hidup dapat diselamatkan. Bagaimana
dengan kondisi Indonesia saat ini? Menurut data
BPS (2011) jumlah penduduk miskin di Indonesia
mencapai 30,02 juta orang atau 12,49 dari
penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun 2010,
penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan
sebesar 0,84. Dari 30,02 juta orang penduduk
miskin, yang terbesar berada di pedesaan yaitu
sebanyak 18.97 juta orang, sedangkan di perkotaan
sebanyak 11,05 juta orang. Kawasan pedesaan
paling banyak penduduk miskinnya, hal inilah yang
mengkhawatirkan, karena tekanan terhadap hutan
semakin tinggi. Hal ini juga menjadi kekhawatiran
Komisi Dunia Untuk Lingkungan dan Pembangunan PBB
(1988). Masyarakat miskin seringkali
mengeksploitasi lingkungan sekitarnya demi
kelangsungan hidupnya. Mereka akan menebang
hutan, ternaknya akan menggunduli padang-padang
rumput, mereka akan menggunakan lahan merginal
secara berlebihan. Mereka ini terpaksa
memanfaatkan secara berlebihan basis sumberdaya
yang ada demi kelangsungan hidup mereka. Sasaran
yang paling dekat untuk memperoleh bahan pangan
adalah hutan. Orang miskin itu disebut dengan
kelompok the struggling. Mereka umumnya memiliki
motto apa yang dapat kita makan hari ini. Hal
ini menyebabkan mereka memandang lingkungan
sebagai salah satu mata pencaharian untuk
bertahan hidup. Bagi mereka lingkungan bukan
untuk kaya. Intinya, bagaimana dari lingkungan
bisa menghasilkan pangan, papan dan sandang.
Tentu upaya yang mereka lakukan adalah
mengeksploitasi habis-habisan lingkungan yang ada
di sekitarnya, terutama kawasan
hutan. Masyarakate miskin belum sempat berpikir
tentang lingkungan, tentang pelestarian, tentang
konservasi tentang rehabilitasi lahan. Tekanan
ekonomi dan kehidupan yang tidak memihak kepada
mereka semakin terasa berat kondisi ini memaksa
mereka untuk mencari lahan sekedar bercocok tanam
untuk dapat bertahan hidup.
Sumber http//green.kompasiana.com/penghijauan/20
12/03/03/kemiskinan-penyebab-kerusakan-lingkungan-
hidup/ . Diunduh 3/4/2012
6
POVERTY AND ENVIRONMENT Case of Urban Wetland
Communities in Depok and Jakarta. By Rissalwan
Habdy Lubis This paper presented in Flinders
Asia Centre Honours, Post-Grad Staff Seminar,
on October 14th 2005. Also published in Social
Welfare Journal (ISSN 1412-842X), University Of
Indonesia, Vol.4 No.1, April 2006.
In many cases, environmental degradation has
serious impact on people especially the poor. The
poor are living in a very hostile environment no
clean water no infrastructure for proper liquid
and solid waste removal and disposal no road or
access for necessary services such as fire
fighting or ambulance no proper educational
facilities and health services (Hukka, et al
1991). The poor have been pushed or squeezed out
of strategic and high-potential land, and often
have no choice but to over-exploit the marginal
resources available to them. They continue to
find some place nearby natural resourcesespeciall
y waterto build their slum settlement upon.
Therefore, the poorer of the society get the
worse of the environmental situation. Poverty and
environment are related through a complex web of
relationships. The World Bank (2004) identifies
three major links between environmental
degradation and impacts on poor people
Environmental health poor people suffer most
when water, air and land are polluted - it is
poor people who suffer most Livelihoods poor
people tend to be most directly dependent on
natural resources, and are therefore the most
severely affected when soils, vegetation and
water resources are degraded Vulnerability the
poor are often exposed to environmental hazards,
and are the least capable of coping when they
occur. .
Sumber http//staff.ui.ac.id/internal/090603090/p
ublikasi/POVERTYANDENVIRONMENT.pdf . Diunduh
3/4/2012
7
LINKING POVERTY AND ENVIRONMENT A CONSEPTUAL
FRAMEWORK
Since the 1970s, it has been almost universally
agreed that poverty and environmental degradation
are inextricably linked. The World Commission on
Environment and Development (Brundtland
Commission,1987) states Many parts of the world
are caught in a vicious downwards spiral poor
people are forced to overuse environmental
resources to survive from day to day, and their
impoverishment of their environment further
impoverishes them, making their survival ever
more difficult and uncertain. The overlapping
implications of population growth and economic
marginalization for poverty and environmental
degradation have led to a belief in a negative
downward spiral for poor communities in the face
of economic and demographic change (Durning,
1989 Grepperud, 1997 586-608). To this may be
added the additional impacts of environmental
decay.
  • The approach of poverty and environment linkages.
    It assumes that
  • There is an aggregate population or community
    which interacts with an aggregate environment
  • Peoples livelihoods are based more or less
    exclusively on the use and management of
    environmental resources
  • Poverty and environmental change have a direct
    causal relationship, and can feed each other in
    some kind of cumulative causation process, and
    that
  • Poverty is the principal or only cause of
    environmental change, and vice versa. This mutual
    relationship therefore leads to a downward
    spiral of poverty and environmental degradation.

Sumber . Diunduh 3/4/2012
8
The Environmental Entitlements Framework
A useful set of analytical tools for a more
comprehensive approach of the poverty and
environment linkage is found in the environmental
entitlements approach. Outlines the
environmental entitlements approach in
diagrammatic form (Leach et all, 1997). The
framework elaborates how particular components of
the environment become endowments and
entitlements for different people, affecting
their well-being..
Sumber . Diunduh 3/4/2012
9
LINGKUNGAN HIDUP DAN KESEJAHTERAAN
The natural resource management activities of
diverse groups of people in turn help produce
kinds of environmental services. The concept of
environmental entitlements is a descriptive one,
referring to the alternative sets of benefits
derived from environmental goods and services
over which people have legitimate effective
command and which are instrumental in achieving
well-being. These benefits may include direct
uses in the form of commodities, such as food,
water or fuel, and the benefits derived from
environmental services, such as the properties of
the hydrological cycle for electrical generator.
Importantly, different people may rely for
contributions to their well-being derived from
different components of the environment. The
processes by which particular people derive
benefit from particular components of the
environment are structured by institutions, which
can be defined as regularized patterns of
behavior between individuals and groups in
society. Those relevant to people-environment
relations may be formal (e.g. a statutory land
reform) or informal (e.g. customary norms
regarding labor use).
Institutions at multiple scale levels may
interact to shape the benefits people derive from
environmental goods and services and the ways
they manage them, and thus the trajectories of
livelihood-environment relations over time. Such
as the process to make chemical fertilizer from
natural gas (LNG), that may increase farmers
productivity and their income.
Sumber . Diunduh 3/4/2012
10
ENVIRONMENTAL CHANGE AND THE URBAN POVERTY
There are important differences between
povertyenvironment linkages in urban and in
rural areas. Firstly, in the rural context
livelihoods depend more directly on natural
resources than in the urban context where
cash-based income activities (e.g. trading and
services) are more significant. Secondly, poor
people impact less on the forces causing
environmental degradation than industrial excess
in urban areas. Thirdly, urban environmental
degradation is primarily associated with health
impacts. As a result, the causes and consequences
of urban deprivation are commonly more adequately
addressed via political and economic policies
rather than through direct intervention into
environmental processes. .
Kemiskinan kota Jakarta, daerah pinggiran Kali
Sunter Sumber http//miskinsusahhidup.blogspot.c
om/ . Diunduh 3/4/2012
11
Environmental Health
Several researchers have identified that urban
environmental problems may undergo a variety of
transformations which some have represented as a
series of stages (1995 Satterthwaite et.all,
1996 McGranahan et.all, 1996). The initial phase
is the dominance of biological pathogens or
microorganisms that may result from inadequate
sanitation, poor clean water supplies and waste
disposal. Later stages of pollution include
industrial hazards such as smoke and solvent
pollution. On the other hand, poor people who
live along the edge of situ also have a lot of
contribution to the degradation of water quality
in the situ. They flow their house liquid waste
into situ, so the water in the situ becomes muddy
mixed with oil and detergent foam. Although it
can be dangerous, the poor people also consume
the water from situ for washing their clothes and
for bathing.
Hubungan antara determinan-determinan lingkungan
dandimensi-dimensi kemiskinan (Diadaptasi dari
Bucknall, Kraus and Pillai (2001))
Sumber http//www.scribd.com/doc/33400040/Penge
lolaan-Lingkungan-Hidup-Yang-Berkelanjutan-Dan-Str
ategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh
-B-Irawan-Oktober-2004. Diunduh 3/4/2012
12
  • The approach to link poverty and environment
    issues by explaining the negative mutual
    relationship between poverty or vulnerability and
    environmental changerecognized as vicious
    downward spiral concept are currently not
    suitable for the actual condition. The more
    relevant approach to explain this real complex
    situation is by describing the environmental
    entitlements that make poor people able to use
    the natural and environmental resources by
    governing from institutions that have
    authorization of it.
  • The poor community in the riverbank has made the
    river a waste areaby throwing solid trash and
    disposing liquid waste directly into the
    riverand at the same time this has made the
    river for consuming purposes such as for their
    livelihood and also as a source of consumption
    for water unsanitary.
  • The poor community nearby situ, whether
    intentionally or unintentionally, has strongly
    contributed to the reducing water surfaces. The
    intentionally one, perform in the action to
    extend the land for subsistence cultivation and
    new settlements.
  • There is a need to conduct further study to
    reveal some topics, which are (1) the specific
    change over time (past and presentand future, is
    possible) of relational pattern between daily
    activities of the poor and the condition of the
    wetland where they live, as the water
    conservation for the sustainability of
    environment and human life as well. (2) The issue
    about local and regional interest mapping on
    various concerning urban wetland stakeholders, to
    explain whether there are sustainable development
    or sustainable conflict management among the
    stakeholders.

Sumber . Diunduh 3/4/2012
13
KEMISKINAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
Kemiskinan dan kerusakan lingkungan berkorelasi
positif. Bahkan keduanya memiliki hubungan
kausalitas derajat polinomial. Pada derajat
pertama, kemiskinan terjadi karena kerusakan
lingkungan atau sebaliknya lingkungan rusak
karena kemiskinan. Pada tingkatan polinomial
berikutnya, kemiskinan terjadi akibat kerusakan
lingkungan yang disebabkan karena kemiskinan
periode sebelumnya. Hal sebaliknya berpeluang
terjadi, lingkungan rusak karena kemiskinan yang
dipicu oleh kerusakan lingkungan pada periode
sebelumnya. Hubungan sebab akibat itu bisa terus
berlanjut pada derajat polinomial yang lebih
tinggi, membentuk lingkaran setan atau siklus
yang tidak berujung. Dalam kondisi seperti itu,
kemiskinan semakin parah dan lingkungan semakin
rusak. Semakin lama kondisi itu berlangsung,
semakin kronis keadaanya. Bila sudah demikian,
status kemiskinan berubah secara tidak linier.
Dari miskin, ke lebih miskin, dan akhirnya miskin
sekali. Tren yang sama juga terjadi juga pada
kerusakan lingkungan. Jeffrey Sachs dalam
kesimpulan bukunya The End of Poverty menekankan
pentingnya hubungan kemiskinan dan kerusakan
lingkungan sebagai peubah penentu kesejahteraan
dan kemakmuran. Menurutnya, sementara investasi
pada kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur
mungkin dapat mengatasi perangkap kemiskinan yang
sudah ekstrem kondisinya, degradasi lingkungan
pada skala lokal, regional, dan global dapat
meniadakan manfaat investasi tersebut. Dengan
kata lain, ada banyak variabel penting yang ikut
menentukan kesejahteraan dan kemiskinan, namun
lingkungan alam bisa dipandang sebagai yang
terpenting. Karena pentingnya hubungan
kemiskinan dan kerusakan lingkungan, dalam
Millenium Development Goals (MDGs) kedua variabel
tersebut dijadikan target bersama negara-negara
dunia untuk menyelesaikannya hingga periode 2015.
Sumber http//assidiqichywt.blogspot.com/2010/1
0/kwmiskinan-menyebabkan-kerusakan.html.
Diunduh 3/4/2012
14
KEMISKINAN DAN KERUSAKAN EKOLOGIS
Kemiskinan dan kerusakan ekologis adalah sesuatu
yang sangat sulit dipisahkan. Kerusakan ekologis
menyebabkan kemiskinan, sebaliknya kemiskinan
menyebabkan semakin tingginya kerusakan ekologis.
Sehingga faktor ekologis merupakan salah satu
faktor utama penyebab kemiskinan di
Indonesia. Pemimpin spiritual India, Mahatma
Gandhi pernah mengingatkan, Bumi menyediakan
cukup kebutuhan seluruh umat manusia, tapi tak
akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan dan
kerakusan seorang manusia. Memang, orang-orang
yang rakus senantiasa tidak pernah puas dan
merasa kurang, sekalipun sudah berkelimpahan. Peri
ngatan Mahatma Gandhi sangat relevan dengan
situasi global, lebih-lebih saat ini. Kerakusan
tidak hanya menciptakan kemiskinan bagi sesama
manusia, tapi juga rusaknya keseimbangan alam.
Keserakahan membuat alam dieksplorasi secara
berlebihan, yang akan menimbulkan bencana, alam
hanya dilihat sebagai sumber financial semata,
sedangkan sesungguhnya alam memiliki fungsi
ekologis yang bernilai ekonomi tidak langsung,
yang mendukung nilai ekonomi secara
langsung. Bencana dapat didefinisikan, adalah
suatu situasi di mana cara masyarakat untuk hidup
secara normal telah gagal, sebagai akibat dari
peristiwa kemalangan luar biasa, baik karena
peristiwa alam ataupun perbuatan manusia. Bencana
tersebut menyebabkan terjadinya bencana
pembangunan sebagai gabungan faktor krisis
lingkungan, akibat pembangunan dan gejala alam
itu sendiri, yang diperburuk dengan perusakan
sumber daya alam dan lingkungan serta
ketidakadilan dalam kebijakan pembangunan sosial
ekonomi. Dari beberapa sumber dan fakta lapangan,
bahwa kerusakan ekologis menjadi salah satu
faktor utama kemiskinan di Indonesia. Di pesisir
Jawa, sampai akhir tahun 2003, jumlah desa
terkena banjir meningkat tiga kali lipat, yaitu
2.823 desa dibandingkan tahun 1996-1999, yang
juga merupakan implikasi dari rusaknya ekosistem
pesisir akibat dari konversi lahan, destructive
fishing, reklamasi, hingga pencemaran laut (di
mana 80 industri di Pulau Jawa berada di
sepanjang pantai utara Jawa). Kekeringan adalah
bencana lain yang semakin kerap terjadi di
Indonesia. Belakangan ini musim kemarau di
Indonesia semakin panjang dan tidak beraturan,
meski secara geografis dan alamiah, Indonesia
berada di lintasan Osilasi Selatan-El Nino
(ENSO). Misalnya kemarau 2003 termasuk normal,
namun tercatat 78 bencana kekeringan di 11
provinsi, dengan wilayah yang terburuk dampaknya
adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dampak
kekeringan yang utama adalah menurunnya
ketersediaan air, baik di waduk maupun badan
sungai, yang terparah adalah pulau Jawa. Dampak
lanjutannya adalah pada sektor air bersih,
produksi pangan serta pasokan listrik. Kekeringan
juga terkait dengan kebakaran hutan, karena cuaca
kering memicu perluasan kebakaran hutan dan lahan
serta penyebaran asap.
Sumber http//www.kompasberita.com/2011/11/kemisk
inan-dan-kerusakan-ekologis-1/ . Diunduh
3/4/2012
15
Kemiskinan Akar Masalah Kerusakan Hutan Saturday,
18 February 2012 1058 Yudi Rachman, Reporter
KBR68H
. Kemiskinan dianggap menjadi akar masalah
pengerusakan hutan dan lingkungan hidup di
Indonesia. Ketua Satuan Tugas Kelembagaan REDD
Kuntoro Mangunsubroto mengatakan, pengurangan
angka kemiskinan menjadi faktor penting penurunan
angka kerusakan hutan, karbon dan penyelamatan
lingkungan hidup.   Menurut dia, tanpa
menyelesaikan persoalan kemiskinan, program
perbaikan hutan dan lingkungan hidup tidak akan
berjalan maksimal. Hal yang lebih penting adalah
kemiskinan, karena sebagian orang yang nebang
tegakan hutan adalah orang miskin . Hasil
menebang pohon hutan ini digunakannya untuk
biaya sekolah anaknya, untuk berobat anak ke
Puskemas, untuk merawat kesehatan dan lainnya.
Fakta ini ada di masyarakat dan apabila tidak
segera ditanggulangi maka masalah-masalah REDD,
emisi karbon, penebangan hutan, pemerkosaan lahan
gambut akan tetap terjadi.
Kegiatan-kegiatan pengelolaan lingkungan dapat
berkontribusi terhadap upaya pemberdayaan
masyarakat lokal. Masyarakat setempat
diberdayakan dengan ikut serta dalam pengambilan
keputusan tentang pemanfaatan sumberdaya alam dan
lingkungan secara berkelanjutan, yang kemudian
langsung dikaitkan dengan sumber penghidupan dan
kegiatan ekonomi mereka. Apabila masyarakat
sudah diberdayakan, pengelolalaan sumberdaya alam
akan bermanfaat menjaga lingkungan, menciptakan
peluang-peluang ekonomi bagi masyarakat untuk
peningkatan pendapatan, dan sekaligus membangun
modal sosial dari masyarakat setempat dalam
memahami dan mengatasi berbagai masalah
pengelolaan lingkungan.
Sumber http//www.greenradio.fm/news/latest/7830-
kemiskinan-akar-masalah-kerusakan-hutan- .
Diunduh 3/4/2012
16
LINGKUNGAN RUSAK, PICU PENINGKATAN KEMISKINAN
Monday, 03 May 2010 0250
Kegagalan pemerintah mengatasi kerusakan
lingkungan yang semakin parah, dapat memicu
peningkatan kemiskinan di Indonesia. Ada tiga
dampak kerusakan lingkungan yang berpotensi
memiskinkan rakyat yakni banjir, kemacetan lalu
lintas serta penyakit lantaran buruknya
lingkungan. "Ketiga masalah ini telah terjadi,
bahkan kondisinya sudah meluas di hampir seluruh
daerah di Indonesia," ungkap Herdianto WK ,
Sekjen Dewan Pengurus Nasional (DPN) Perhimpunan
Cendekiawan Lingkungan Indonesia (Perwaku) pada
seminar nasional 'Pertimbangan Lingkungan untuk
Penataan Ruang' di Jakarta. Banjir dapat mengubah
orang jadi miskin seketika karena kehilangan
rumah dan harta bendanya, Kemacetan lalu lintas
berakibat biaya transportasi perkotaan
menghabiskan 30 pendapatan setiap orang per
bulannya. Kualitas lingkungan buruk dapat memicu
penyakit demam berdarah, malaria, muntaber
sehingga menyedot biaya rumah sakit yang tinggi,
sehingga dapat menghabiskan tabungan masyarakat,
malah membuatnya berhutang. Sampai saat ini
belum ada tindakan pemulihan kerusakan lingkungan
yang berhasil. Reboisasi hutan selama 10 tahun
telah menghabiskan dana lebih dari Rp 15 triliun,
ternyata tidak hasilnya belum tuntas. Konversi
lahan menjadi tambang batubara yang menghasilkan
uang triliunan rupiah dan membuat pengusaha
menjadi konglomerat, terbukti tidak mampu
meningkatkan kesejahteraan riil masyarakat di
sekitar penambangan batubara. Malah yang terjadi
di Samarinda juga daerah tambang batubara lainnya
terjadi kerusakan lahan pertanian, meningkatnya
banjir dan melonjaknya angka kemiskinan akibat
hilangnya mata pencaharian penduduk sekitar
tambah itu, ungkap Herdianto serius. Untuk
menekan angka kerusakan lingkungan dibutuhkan
kepemimpinan dan keberanian dalam menyetop
berncana lingkungan dan pemiskinan massal. Juga,
dibutuhkan kemauan politik lingkungan serta
tindakan nyata yang pro lingkungan pada kegiatan
konversi pemanfaatan ruang, lingkungan dan sumber
daya alam. Konversi dari rakyat kecil di sekitar
lingkungan yang rusak, menjadi kegiatan korporasi
yang dapat berpotensi menghancurkan perekonomian
rakyat setempat. Ada tiga yang berpotensi
mengancam kesejahteraan rakyat setempat yakni
reklamasi pantai, pertambangan perkebunan sawit,
dan penggusuran pemungkiman untuk kegiatan
komersial. Proses pemiskinan rakyat dibalik
fenomena pertumbuhan ekonomi harus segera
dihentikan, di beberapa daerah pertumbuhan
ekonomi dan pertumbuhan PDRB diikuti oleh
meningkatnya kemiskinan. Fenomena ini terjadi
lantaran sumbangan terbesar pertumbuhan oleh
korporasi yang eksploatif terhadap sumber daya
alam, lingkungan serta upah buruh yang murah.
Pertumbuhan seperti ini mengakibatkan kerusakan
lingkungan yang dampaknya ditanggung oleh rakyat.
Besarnya biaya kerusakan yang ditanggung rakyat
inilah yang memicu tumbuhnya kemiskinan.
Sumber http//www.perwaku.org/index.php?optionco
m_contentviewarticleid130lingkungan-rusak-pic
u-peningkatan-kemiskinancatid41liputanItemid8
9 . Diunduh 3/4/2012
17
Tinggalkan Kemiskinan - Tingkatkan
Produktivitas Dari sudut pandang awal,
kemiskinan berkait dengan produktivitas. Situasi
kemiskinan cenderung membuat produktivitas
seseorang rendah. Rendah dalam kuantitas, rendah
dalam kualitas ataupun rendah dalam kreativitas.
Yang dihasilkan hanya yang rutin, yang juga sudah
dihasilkan banyak orang, kualitas rendah,
sehingga daya saing menurun, harga jatuh dan
tidak terjual karena yang ditawarkan menjadi
lebih banyak dari kebutuhannya. Pada akhirnya,
penghasilan rendah, keuangan terbatas, dan
kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sumber wisnusudibjo.wordpress.com/.../
18
Transformasi sosial menuju Masyarakat Madani
Sumber ndp2kp.blogdetik.com/apa-itu-plp-bk/
19
Sumber www.mirifica.net/artDetail.php?aid4945
Seorang anggota jaringan kaum muda memperkenalkan
sebuah gerakan "adopsi pohon" pada sebuah
lokakarya antaragama saat ia mendesak aksi,
meskipun kecil, daripada sejumlah konsep untuk
mengatasi kerusakan lingkungan.  "Dalam mengatasi
masalah lingkungan hidup, saya kira usaha-usaha
kecil dan konkret jauh lebih penting daripada
konsep-konsep ideal," kata Ardi Rahman pada
lokakarya 12-13 April di Kaliurang,
Yogyakarta.  "Kami telah berusaha menanamkan
kesadaran akan betapa pentingnya pohon bagi
kehidupan umat manusia dengan meluncurkan program
yang kami beri nama 'adopsi pohon,'" kata anggota
Jaringan Pemuda Indonesia (JPI) yang beragama
Islam itu kepada lebih dari 30 peserta dari
berbagai komunitas dan organisasi
keagamaan.  Rahman, 29, mengatakan bahwa tujuan
gerakan tersebut adalah melindungi pohon-pohon
besar di lahan milik para petani setempat.
Sementara kelompok-kelompok lain telah melakukan
gerakan penanaman pohon, katanya, kelompoknya
melindungi pohon-pohon yang sudah tumbuh dengan
meminta para petani agar bersumpah untuk tidak
menebang pohon-pohon tersebut dalam jangka waktu
tertentu, hingga 15 tahun.
20
JPI JARINGAN PEMUDA INDONESIA
 JPI meluncurkan gerakan itu setahun lalu
berdasarkan pemikiran bahwa masyarakat tidak bisa
menunggu sebuah gerakan yang besar untuk menjaga
lingkungan. "Kepada para petani, kami beri uang
sebanyak Rp 100.000 per pohon. Seorang petani
bersumpah untuk tidak menebang pohon dalam sebuah
ritual khusus. Saat ritual ini, petani tersebut
dan lima anggota JPI membungkus pohon itu dengan
kain putih dan kemudian berdiri mengelilingi
pohon itu dan berdoa.   Dengan cara seperti ini,
JPI telah melindungi 200 dari 10.500 pohon yang
akan menjadi target di wilayah Yogyakarta.   Bebe
rapa organisasi dan komunitas yang menghadiri
lokakarya itu adalah Forum Persaudaraan Umat
Beriman (FPUB) Yogyakarta, Indonesian Committee
on Religions for Peace (IComRP), Pusat Studi
Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada di
Yogyakarta, dan Lembaga Lingkungan Hidup
Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di
tanah air. Muhyidin Mawardi (dari Muhammadiyah)
mengatakan kepada peserta bahwa sebuah perubahan
pola pandang itu perlu untuk mengatasi isu
lingkungan hidup. Banyak orang bertindak
sewenang-wenang terhadap alam karena mereka
menganggap manusia diciptakan sebagai "raja atas
alam semesta."
Sumber . Diunduh 3/4/2012
21
Sumber gemaniasbarat.wordpress.com/.../
  • Pengertian Kemiskinan
  • Pengertian kemiskinan ada bermcam-macam, namun
    dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang
    komprehensif dan terpadu harus ada kesepakatan
    pemahaman semua pihak penyelenggara agar
    targeting yang dilaksanakan tepat sasaran baik
    target penduduk miskin maupun program yang
    dilaksanakan.
  • Pengertian kemiskinan yang perlu diketahui dan
    dipahami adalah sebagai berikut 1. Kriteria BPS,
    kemiskinan adalah suatu kondisi seseorang yang
    hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2.100
    kalori per hari. 2. Kriteria BKKBN, kemiskinan
    adalah keluarga miskin prasejahtera apabila a.
    Tidak dapat melaksanakan ibadah menurut
    agamanya. b. Seluruh anggota keluarga tidak mampu
    makan dua kali sehari. c. Seluruh anggota
    keluarga tidak memiliki pakaian berbeda untuk di
    rumah, bekerja/sekolah dan bepergian. d. Bagian
    terluas dari rumahnya berlantai tanah. e. Tidak
    mampu membawa anggota keluarga ke sarana
    kesehatan. 3. Kriteria Bank Dunia, kemiskinan
    adalah keadaan tidak tercapainya kehidupan yang
    layak dengan penghasilan USD 1,00 per hari.
  • Masyarakat Miskin
  • Menurut Gunawan Sumodiningrat, masyarakat miskin
    secara umum ditandai oleh ketidakberdayaan
    /ketidakmampuan (powerlessnesss) dalam hal
  • Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan
    dan gizi, sandang, papan, pendidikan dan
    kesehatan (basic need deprivation).
  • Melakukan kegiatan usaha produktif
    (unproductiveness).
  • Menjangkau sumber daya sosial dan ekonomi
    (inacceribility).
  • Menentukan nasibnya diri sendiri serta senantiasa
    mendapat perlakuan diskrminatif, mempunyai
    perasaan ketakutan dan kecurigaan, serta sikap
    apatis dan fatalistik (vulnerability) dan
  • Membebaskan diri dari mental budaya miskin serta
    senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga
    diri yang rendah (no freedom for poor).
  • Ketidakberdayaan atau ketidakmampuan tersebut
    menumbuhkan perilaku miskin yang bermuara pada
    hilangnya kemerdekaan untuk berusaha dan
    menikmati kesejahteraan secara martabat.

22
PENDAPATAN MASYARAKAT MISKIN PEDESAAN
Nias memiliki lahan desa-desa yang relatif subur
seperti di wilayah kabupatennya yang sangat
banyak ditumbuhi pohon kelapa hingga 46.123 Ha,
yang menutupi hampir seluruh pantainya. Walaupun
demikian, tingkat kesejahteraan sosial ekonomi
masyarakat di seluruh desa-desa pada umumnya
masih sangat rendah. Masalah utama Nias yang
sangat pelik dan membuat penduduknya selalu
terperangkap pada situasi keterbelakangan dan
kemiskinan tersebut, pertama adalah adat istiadat
(sehingga Nias ini dapat dikategorikan sebagai
daerah kemiskinan cultural), dan yang kedua
keterissolasian desa-desa dalam kabupaten Nias
itu sendiri. Dalam keadaan rata-rata pendapatan
masyarakat pedesaan yang demikian rendah, adat
istiadat mewarnai cara hidup suku Nias ini dan
dikategorikan sangat ketat, dan juga demikian
konsumtif. Hampir tidak ada acara adat yang tidak
dilayani dengan pengorbanan materi yang sangat
besar terutama untuk menyiapkan makanan bagi para
tetamu. Adat istiadat yang masih sangat kuat
melekat pada kehidupan masyarakat Nias ini
merupakan ongkos ekonomi maupun sosial yang
sangat tinggi dan harus dibayar, walaupun kurang
menciptakan multiplier ekonomi yang sangat
diperlukan bagi pembangunan atau untuk melepaskan
diri dari kemiskinan dan keterbelakangan.
Sumber . Diunduh 3/4/2012
23
Perbedaan Program Pembasmian Kemiskinan di
Indonesia dan Malaysia Kajian Kes Bandung dan
Kuala Lumpur Posted by yogi suprayogi sugandi on
September 11, 2008 Kemiskinan masih menarik
perhatian banyak pihak, termasuk para ahli
akademik di berbagai bidang kajian. Kajian
tentang kemiskinan selalunya melibatkan faktor
ekonomi, sosial, budaya dan juga politik. Ahli
sejarah dan perbandingan kemiskinan
mendefinisikan kemiskinan melalui satu garisan
(continuum), kemahuan (want) bermula dari
kebuluran, saradiri (subsistence), sosial coping
dan akhir sekali partisipasi sosial. Walau
bagaimanapun, kemiskinan merupakan sebagai suatu
masalah kehidupan sosial didalam masyarakat dunia
ketiga, bukan hanya wujud pada masyarakat luar
bandar, tetapi juga bandar. Seperti halnya
dituliskan oleh ahli-ahli sosiologi, politik dan
ekonomi di Indonesia, yang menyatakan bahawa
kemiskinan termasuk dalam permasalahan sosial,
tetapi apa yang menyebabkannya dan bagaimana
mengatasinya tergantung pada ideologi yang
dipergunakan.
Kuala Lumpur Slums Area
Sumber yogisuprayogisugandi.wordpress.com/.../
24
Sumber mave.wordpress.com/.../ ORANG MISKIN
DAN GARIS KEMISKINAN Pemerintah menetapkan bahwa
yang disebut miskin adalah ketidakmampuan secara
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan
dan bukan makanan yang diukur dari sisi
pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang
mempunyai rata-rata pengeluaran per kapita per
bulan di bawah Garis Kemiskinan. Garis
Kemiskinan (GK) terdiri dari Garis Kemiskinan
Makanan (nilai pengeluaran kebutuhan minimum
untuk makanan setara 2100 kalori/kapita/hari,
yang diwakili oleh 52 komoditi bahan makanan) dan
Garis Kemiskinan Bukan Makanan (nilai pengeluaran
kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang,
pendidikan, dan kesehatan, yang diwakili oleh
47-51 komoditi). Disebut tidak miskin kalau
pengeluarannya gt 1,5 GK.
25
Sumber kriyamedia.blogspot.com/2008/04/kritisnya
-reh... DEGRADASI Menyinggung masalah banjir
dan masalah kepemimpinan seperti yang diungkapkan
diatas, dari dua dekade pemerintahan terakhir,
kita merasakan semakin seringnya terjadi bencana
ekologi, tidak hanya baik banjir namun
kekeringan, maupun tanah longsor, yang telah
menelan begitu banyak korban harta maupun
manusia. Bencana ekologi tersebut juga telah
menghadirkan begitu meluasnya kemiskinan dan
penurunan kualitas kesehatan masyarakat di
tingkat lokal. Hal ini memunculkan pertanyaan
bagi kita, apakah pemerintahan mempunyai
keberpihakan terhadap lingkungan hidup yang baik
dan sehat bagi rakyat? Bagaimana sikap dan
kebijakan pemerintah terhadap penanganan
lingkungan saat ini?
26
DEGRADASI LAHAN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
Sudah kita ketahui bersama, kondisi sumber daya
alam dan lingkungan di Indonesia saat ini dalam
keadaan yang memprihatinkan. Erosi tanah
mengakibatkan pencemaran dan pendangkalan sungai,
waduk serta perairan terjadi di seluruh wilayah
Indonesia sehingga tidak lagi berfungsi
sebagaimana mestinya. Bila melihat laju degradasi
hutan di Indonesia sepuluh tahun terakhir, sangat
memprihatinkan mencapai hingga 1,6 hutan
Ha/tahun. Seperti yang kita ketahui, salah satu
fungsi hutan adalah menjaga keseimbangan
hidro-orologis. Hutan berperan menaikkan laju
resapan air ke dalam tanah sehingga mengurangi
konsentrasi aliran air dan risiko banjir dapat
diminimalisasi, walaupun terjadi banjir tidak
terjadi banjir bandang. Kenaikan laju infiltrasi
menyebabkan peningkatan cadangan air tanah di
sekitar hutan, yang nantinya dikeluarkan pada
musim kemarau sebagai mata air. Jadi secara umum,
hutan berfungsi untuk stabilisasi dan
optimalisasi aliran air, bukan menambah air
(Soemarwoto, 1992). Degradasi lahan masih terus
terjadi hingga sekarang. Di Jawa Barat saja, dari
total luas kawasan hutan Jabar, yang luasnya
mencapai 22,5 persen dari daratan, diperkirakan
hanya tinggal 10 persen luas daratan yang masih
berupa hutan. Selebihnya hanya berupa tanah
kosong yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai
hutan. Jumlah lahan kritis di Provinsi Jawa
Barat tercatat seluas 601.557 hektare. Dari
jumlah tersebut terbagi dalam kerusakan di lahan
hutan konservasi seluas 21.335 ha, kerusakan di
hutan lindung 27.689 ha, lahan hutan produksi
112.614 ha, dan hutan rakyat 439.919 ha (Pikiran
Rakyat, Selasa, 14 Oktober 2007). Tanda-tanda
degradasi lahan di Jawa Barat sangat kentara.
Tanda-tanda adanya degradasi, adalah dengan makin
menyusutnya sumber air di permukaan tanah dan
sumber air di bawah tanah, baik secara kuantitas
maupun kualitasnya.
Sumber . Diunduh 3/4/2012
27
ALIH FUNGSI LAHAN
Perubahan fungsi lahan dari kawasan resapan air
menjadi kawasan permukiman, juga memberi dampak
yang sangat luas, yang akhirnya menimbulkan
bencana bagi masyarakat setempat. Dengan kondisi
seperti itu, tidak ada jalan lain selain
mengerahkan segala daya untuk segera bertindak
nyata mencegah dan memulihkan kerusakan
lingkungan hidup di bumi ini. Bahkan pasca krisis
moneter didaerah-daerah pinggiran hutan terdorong
untuk melakukan perluasan lahan-lahan perkebunan.
Sehingga seringkali terjadi perambahan hutan oleh
masyarakat sekitarnya. Ditambah oleh usaha
kehutanan dan hutan tanaman dari pemerintah
pusat, yang membagi habis kawasan hutan
lindung. Hal diatas diiringi semakin tidak
terkendalinya pemerintah, baik pusat, provinsi
maupun kabupaten-kota, dalam mengelola tata
lingkungannya. Bila menilik masalah lingkungan
yang terjadi di Jawa Barat merupakan akibat dari
perencanaan dan pengelolaan tata ruang dan lahan
yang tidak tepat, kondisinya memberikan gambaran
yang negatif dan terus mengalami degradasi di
berbagai sektor. Hal tersebut karena tidak adanya
lagi otoritas gubernur untuk ikut mengendalikan
tata ruang, masing-masing walikota atau bupati
punya otoritas baru. Sehingga pemerintah daerah
leluasa memberikan perijinan kepada para
pengembang, tanpa pernah mengindahkan dampak
ekologi yang akan timbul dari pemberian ijin.
Semua terjadi dengan dan atas nama Pendapatan
Asli Daerah (PAD), dan atas nama pertumbuhan
ekonomi di daerah, banyak sekali ruang terbuka
hijau yang sebenarnya ruang publik dan hak
masyarakat, dirampas dan direduksi menjadi
fungsi-fungsi ekonomi. Bahkan kebijakan ini
semakin diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan
Pemerintah No.2 tahun 2008, tentang jenis dan
tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak
yang berasal dari penggunaan kawasan hutan untuk
kepentingan pembangunan di luar kegiatan
kehutanan. Sehingga kemungkinan hutan semakin
dieksploitasi semakin terbuka lebar. Ada apa
ini?! Apakah hasil dari eksploitasi hutan yang
akan diterima sebanding dengan resiko bencana
ekologi?
Sumber . Diunduh 3/4/2012
28
DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN
Dampak lingkungan akibat kerusakan hutan dan
lahan dapat berupa longsor dan banjir selama
musim penghujan. Berbagai kerugian dialami
seperti rusaknya areal pertanian dan sarana
prasarana berupa jalan, jembatan serta perumahan
penduduk yang nilainya miliaran rupiah. Bencana
banjir dan tanah longsor juga menimbulkan korban
jiwa dan dampak lain yaitu menyebarnya berbagai
penyakit. Di musim kemarau, rakyat mengalami
kekeringan yang mengakibatkan penderitaan
masyarakat. Kekurangan sumber air dimana-mana,
sehingga pertanian tidak berjalan dengan
semestinya. Kawasan dengan fungsi lindung,
dibangun dan diolah tanpa mengikuti kaidah sistem
pengolahan lahan yang tepat. Kalau keadaan ini
berlanjut terus setiap tahun, dapat dibayangkan
betapa akan merosotnya kondisi lingkungan.
Kerugian yang besar akan dialami oleh bangsa dan
negara. Menurut Dadang Sudardjaaktivis
lingkungan dari WALHI Jabar, tingkat dan
akselerasi kerusakan lingkungan saat ini telah
lebih jauh berubah menjadi masalah sosial yang
pelik. Aktifitas pembangunan saat ini telah
menimbulkan masalah-masalah sosial seperti
mengabaikan hak-hak rakyat atas kekayaan alam,
marjinalisasi, dan pemiskinan. Permasalahan
lingkungan hidup juga bukan masalah yang berdiri
sendiri dan harus dipandang sebagai masalah
sosial kolektif (http//satudunia.oneworld.net,
05 Februari 2008). Dan ini sebetulnya adalah
tuntutan dari International Convenant on
Economic, Social and Cultural Right Tahun 2002
mengenai hak-hak dasar manusia dan kewajiban
negara untuk menghargai, melindungi dan memenuhi
kebutuhan rakyatnya..
Sumber . Diunduh 3/4/2012
29
Menyikapi program-program rehabilitasi lahan,
Deni Jasmara, Direktur Eksekutif Walhi Jabar,
dalam kesempatan Diskusi Media yang
diselenggarakan K3A dan ESP USAID pada tanggal 24
Februari 2008 merekomendasi perlunya evaluasi
program-program regabilitasi lahan kritis seperti
GRLK maupun Gerhan secara menyeluruh dengan audit
oleh Auditor Publikbukan Bawasda atau BPK,
transparan, menghadirkan pengawas independent
serta pelibatan masyarakat sepenuh hati. Jika
rekomendasi ini tidak dilakukan lebih baik stop!
tegasnya. Menurutnya pula, inti kegagalan Gerhan
disebabkan beberapa hal seperti indikasi korupsi,
lahan fiktif, tanaman tidak terawat, bibit mati,
pengurangan bibit, penunjukkan langsung dalam
tender pengadaan bibit, dan kehilangan
lahan. Pemerintah sudah sepenuh hati untuk
percaya terhadap masyarakat dalam melakukan
pengelolaan lingkungannya. Sehingga mampu
membangkitkan sistem kelola sumberdaya alam
berbasis komunitas lokal yang telah terbukti
memiliki kearifan terhadap alam dan lingkungan
kehidupannya Dengan begitu akan lahir bangkit
dorongan bagi masyarakat untuk menghasilkan
inovasi dan kreatifitas komunitas-komunitas lokal
menjadi tumbuh berkembang seiring dengan adanya
pemerintahan yang dipercaya. Mekanisme kontrol,
akuntabilitas dan transparansi pun diharapkan
hadir dengan adanya pemerintah yang memiliki visi
tegas dalam memperjuangkan nasib rakyat di masa
mendatang. Pemerintah sebagai pelayan publik
wajib mempunyai visi terhadap lingkungan hidup
sebagai bentuk sikap keberpihakan terhadap
kelompok marginal dan pengupayaan pendidikan dan
kesehatan berkualitas dan murah bagi rakyat.
Sumber . Diunduh 3/4/2012
30
Kritisnya Rehabilitasi Lahan Kritis Dalam kondisi
lahan di Jawa Barat yang kritis ini, kita masih
bisa sedikit bernafas lega dengan adanya
program-program pemerintah yangmenyelenggarakan
rehabilitasi lahan kritis. Berdasarkan data Dinas
Kehutanan Propinsi Jawa Barat menyatakan bahwa
tingkat keberhasilan dari program rehabilitasi
lahan seperti Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis
(GRLK) dan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan
dan Lahan (GNRHL di Jawa Barat dari tahun 2003
2006 adalah sekitar 63. Berlawanan dengan Namun
sayang, praktek dilapangan kita masih harus
mengusap dada. Dari beberapa pantauan penulis,
semisal program Gerakan Rehabilitasi Lahan
(Gerhan) atau Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis
(GRLK), menurut pengakuan Eson, salah satu ketua
kelompok petani Mekarsari Desa Mekarwangi-Lembang,
keberhasilan program tersebut di desanya hanya
3 saja. Hal ini disebabkan bantuan yang datang
selalu salah mangsa. Dimana bibit yang ditanam
menghadapi musim kemarau, sehingga perlu ekstra
perhatian dalam penyiramannya. Namun hal itu
tidak didukung dana yang memadai dari pemerintah
termasuk telatnya pencairan dana. Bahkan bibitnya
yang diterima kwalitasnya sangat buruk dan secara
kwantitas yang ada tidak sesuai dengan yang
dijanjikan. Dalam pengadaan bibit, tidak
diusahakan untuk melakukan pembibitan oleh
masyarakat diwilayah sasaran. Pemerintah masih
melakukan pembibitan dan pengadaan bibit sendiri
tanpa mengindahkan kebutuhan dan keinginan warga
di wilayah sasaran program rehabilitasi. Sehingga
bibit yang ditanam tidak sesuai dengan kondisi
wilayahnya. Proses penanamannya pun seakan-akan
tanpa pengawasan jelas dan tidak adanya proses
pendampingan dahulu dalam upaya penyadaran
terhadap kepedulian lingkungan.
Sumber . Diunduh 3/4/2012
31
Sumber awalsholeh.blogspot.com/2009/07/go-green-i
ndo. Hutan termasuk sumber daya alam yang
bersifat dapat diperbaharui, dan hutan merupakan
tempat tersediannya organisme yang secara alami
telah sesuai (adaptif) dengan lingkungannya,
sehingga hutan perlu dilindungi dan dilestarikan.
Kerusakan lingkungan karena campur tangan manusia
antara lain pembangunan permukiman, penerapan
ekstensifikasi pertanian, dan penebangan hutan.
Hutan merupakan sumber daya alam yang penting
bagi makhluk hidup. Bagi tumbuhan dan hewan,
hutan sebagai tempat hidup. Adapun bagi manusia,
hutan sebagai penyedia bahan baku, sumber plasma
hutfah, dan sistem penunjang kehidupan. Pada
dasarnya fungsi hutan bagi manusia dibedakan
menjadi dua, yaitu fungsi langsung dan tidak
langsung. 1. Fungsi Langsung Hutan dapat
dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat
khususnya di sekitar hutan. Contoh a. Memberikan
lapangan kerja b. Memberi hasil hutan berupa
kayu, getah, dan lain-lain. 2. Fungsi Tidak
Langsung 1. Fungsi hidrologis (pengatur air
tanah) 2. Fungsi klimatologis 3. Mencegah
erosi 4. Sumber humus 5. Stabilisator unsur CO2
dan O2 udara 6. Menjaga kerusakan ozon 7. Tempat
hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan. 1)
Cagar alam adalah kawasan yang keadaan alamnya
memiliki tumbuhan, hewan, dan ekosistem khas
sehingga perlu dilindungi agar tumbuh secara
alami. Contoh Nusa Kambangan, Jawa Tengah. 2)
Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang
memiliki ciri khas keanekaragaman dan keunikan
jenis satwa sehingga perlu dilakukan pembinaan
terhadap habitatnya untuk menjaga kelangsungan
hidup satwa yang ada. Contoh Baluran dan Meru
Betiri di Jawa Timur. 3) Taman Nasional adalah
kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem
asli yang dikelola dengan sistem zonasi. Kawasan
ini dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
pengetahuan, budidaya dan pariwisata. Contoh
Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dan
Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan
Timur. 4) Taman Wisata adalah kawasan taman yang
secara khusus dibina dan dipelihara untuk
kepentingan pariwisata atau rekreasi. Contoh
Danau Towuti di Sulawesi Selatan dan Gunung
Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Penebangan hutan
tanpa perhitungan dapat mengurangi fungsi hutan
sebagai penahan air. Akibatnya daya dukung hutan
menjadi berkurang. Penebangan hutan akan
berakibat pada kelangsungan daur hidrologi dan
menyebabkan humus cepat hilang. Dengan demikian
kemampuan tanah untuk menyimpan air berkurang.
Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan
langsung mengalir, hanya sebagian kecil yang
meresap ke dalam tanah. Tanah hutan yang miring
akan tererosi, khususnya pada bagian yang subur,
sehingga menjadi tanah yang tandus. Bila musim
penghujan tiba akan menimbulkan banjir, dan pada
musim kemarau mata air menjadi kering karena
tidak ada air tanah. Penggundulan hutan dapat
menyebabkan terjadi banjir dan erosi. Akibat
lainnya adalah harimau, babi hutan, ular dan
binatang buas lainnya menuju ke permukiman
manusia. Berikut ini berbagai usaha untuk
menghindari kerusakan ekosistem hutan. 1.
Reboisasi, yaitu penanaman kembali tumbuhan di
daerah hutan yang gundul. 2. Melarang penebangan
kayu di hutan. Penebangan hutan hanya boleh
dilakukan dengan prinsip tebang pilih, artinya
pohon yang ditebang harus memenuhi ukuran
tertentu dan penebangan dalam jumlah terbatas. 3.
Mencegah terjadinya kebakaran hutan. 4.
Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang
pentingnya hutan. 5. Menindak tegas dengan sanksi
hukuman yang berat bagi mereka yang melakukan
perusakan hutan. Lingkungan Alami dan Lingkungan
Tercemar Lingkungan hidup yang didambakan
manusia adalah lingkungan yang dapat digunakan
untuk melakukan aktivitas hidup, dapat menjadi
habitat bagi banyak makhluk hidup, serta
mempunyai nilai ekonomis dan nilai budaya.
Lingkungan yang demikian dinamakan lingkungan
alami, yaitu lingkungan yang disusun oleh
komponen abiotik dan biotic yang seimbang dan
tidak tercemar oleh polutan (zat yang menyebabkan
polusi). Akibat masuknya polutan ke dalam
lingkungan yang komponen-komponen penyusunnya
tidak seimbang. Untuk membedakannya, coba
perhatikan narasi berikut ini ! Apakah air sungai
tersebut mengalami perubahan warna, berbau busuk,
atau dipenuhi sampah? Jika sungai dalam keadaan
demikian, maka dikatakan sungai tersebut telah
tercemar. Namun jika kalian melihat air yang
jernih, tidak berwarna, dan tidak berbau, maka
sungai tersebut dikatakan masih alami. Di dalam
sungai yang alami dapat kita jumpai hewan dan
tumbuhan yang beraneka ragam, tidak demikian
halnya disungai yang tercemar. Pencemaran
Lingkungan 1. Berdasarkan sifat zat
pencemar,pencemaran dapat dibedakan menjadi tiga
macam. a. Pencemaran kimiwi, yaitu pencemaran
yang disebabkan oleh zat-zat kimia. b. Pencemaran
fisik, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat
cair, zat padat, dan gas. c. Pencemaran biologis
yaitu pencemaran yang disebabkan berbagai macam
mikroba penyebab penyakit. 2. Macam-Macam
Pencemaran Lingkungan Berdasarkan lingkungan yang
terkena pencemaran maka pencemaran dapat
dibedakan menjadi tiga yaitu pencemaran air,
udara, dan pencemaran tanah. Kerap kali yang
sering terdengar adalah masalah pencemaran air.
oleh karena itu Penulis hanya membahas tentang
pencemaran air. Pencemaran Air Pencemaran air
adalah peristiwa masuknya zat atau komponen lain
ke dalam lingkungan perairan sehingga kualitas
air menurun. Air yang tercemar adalah air yang
telah menyimpan dari keadaan normalnya, dengan
tanda-tanda berikut ini. 1) Perubahan suhu
air Semakin tinggi suhu air maka semakin sedikit
kadar O2 yang terlarut dalam air. Kegiatan
industri dapat menimbulkan panas yang umumnya
berasal dari gerakan mesin. Jika air hasil
industri tersebut dibuang ke lingkungan maka suhu
air menjadi panas. 2) Perubahan pH Air dapat
bersifat asam atau basa tergantung besar kecilnya
pH. Air limbah dan buangan dari industri yang
dibuang ke sungai akan mengubah pH air, sehingga
dapat mengganggu kehidupan organisme air. 3)
Perubahan warna, bau, dan rasa air Air bersih
adalah air yang tidak berwarna bening, jernih,
tidak berbau, dan tidak berasa. Air yang tercemar
bahan buangan industri menyebabkan perubahan
warna dan bau. Selain disebabkan oleh bahan yang
berasal dari buangan industri, kadang-kadang bau
dapat pula berasal dari hasil degradasi bahan
buangan oleh mikroba. Mikroba dalam air akan
mengubah bahan buangan organic terutama protein
menjadi bahan yang mudah menguap dan
berbau. Sumber-sumber pencemaran air terutama
berasal dari limbah industri, limbah rumah
tangga, limbah pertanian, dan hasil tambang. 1)
Limbah Industri Limbah industri atau pabrik
mengandung berbagai macam zat berbahaya, salah
satunnya logam berat seperti timbale, cadmium,
dan raksa. Logam berat yang terlarut dalam air
akan masuk ke dalam tubuh hewan laut dan
terkumpul di dalamnya. Jika hewan laut yang telah
tercemar logam berat dikonsumsi manusia, maka
akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya.
Peristiwa ini pernah terjadi di Teluk Minamata,
Jepang. Para nelayan memakan ikan yang telah
tercemar raksa, akibatnya sistem sarafnya
mengalami kerusakan. Penyakit tersebut dinamakan
penyakit minamata. Selain itu, limbah industri
yang mengendap di perairan dapat menyebabkan
pendangkalan perairan dan membuat air menjadi
kotor serta berubah warna. Pencemaran air oleh
limbah industri dapat dicegah dan ditanggulangi
dengan cara berikut ini. a) Setiap pabrik harus
memiliki tempat penampungan dan instalasi
pengolahan limbah sehingga limbah yang dibuang
tidak mengurangi kualitas perairan. b) Limbah
industri yang mengandung unsur logam dapat
diatasi dengan menanam tumbuhan sejenis
alang-alang disekitar tempat pembuangan
limbah. c) Sanksi hukum bagi perusahaan yang
sengaja membuang limbah tanpa diolah dahulu. 2)
Limbah pertanian Penggunaan pupuk buatan yang
berlebihan pada lahan pertanian dapat menyebabkan
peningkatan kesuburan ekosistem perairan. Pupuk
mengakibatkan pertumbuhan tumbuhan air menjadi
sangat cepat. Peristiwa ini disebut eutrofikasi.
Eutrofikasi menyebabkan permukaan air ditutupi
oleh ganggang. Sinar matahari terhalangi kedalam
perairan. Akibatnya proses fotosintesis oleh
fitoplankton terhambat sehingga kadar O2 dalam
perairan menurun. Salah satu jenis insektisida
yang sangat berbahaya adalah DDT. Senyawa DDT
tidak dapat terurai di alam. Organisme yang
berada dipuncak rantai makanan akan teracuni DDT
dalam jumlah besar. Sebagai contoh, berkurangnya
populasi burung Falconi formes karena kadar DDT
yang tinggi sehingga menyebabkan cangkang telur
menipis dan mudah pecah. Pencemaran air yang
disebabkan oleh limbah pertanian dapat dicegah
dengan cara berikut ini. a) Penggunaan pupuk
buatan sesuai dosis yang telah ditentukan. b)
Tidak melakukan pemupukan saat turun hujan. c)
Menggunakan pestisida yang mudah diuraikan oleh
alam. d) Menggunakan metode biological control
yaitu melakukan pemberantasan hama dengan makhluk
hidup pemakan hama tersebut. 3) Limbah rumah
tangga Rumah tangga menghasilkan limbah, misalnya
sampah dan air buangan yang mengandung detergen.
Limbah rumah tangga dalam jumlah banyak bila
masuk ke dalam perairan akan menyebabkan
ekosistem perairan tercemar. Di perairan, sampah
mengalami penguraian oleh mikroorganisme.
Akibatnya kandungan oksigen dalam air akan
menurun. Pencemaran air oleh limbah rumah tangga
berupa sampah dan air buangan dapat dicegah
dengan cara berikut ini. a. Membuat tempat
pembuangan sampah. b. Memanfaatkan sampah untuk
dibuat kompos. c. Membuat tempat penampungan
limbah berupa air buangan. Tempat pembuangan
harus jauh dari sumber air. 4) Limbah
minyak Limbah minyak dapat menyebabkan pencemaran
laut. Biota laut akan terpengaruh langsung oleh
pencemaran minyak dan secara tidak langsung akan
berpengaruh pula terhadap organismedarat. Adanya
lapisan minyak dipermukaan laut menyebabkan
oksigen tidak dapat berdifusi ke dalam air.
Selain itu, sinar matahari tidak mampu menembus
seluruh permukaan laut sehingga fitoplankton
tidak dapat berfotosintesis. Pencemaran air oleh
limbah minyak dapat dicegah dan ditanggulangi
dengan cara berikut ini. a) Menghindari
kebocoran minyak di laut. b) Sanksi yang tegas
bagi pelaku pencemaran. c) Membersihkan minyak
dengan cara bioiremediasi. Bioremediasi adalah
penggunaan mikroorganisme untuk membersihkan
pencemaran. d) Membuat penghalang mekanik bila
ada tumpahan minyak di laut sehingga minyak tidak
mencapai pantai, kemudian dilakukan penyedotan
minyak.
32
Sumber www.satudunia.net/?qcontent/draft-regula
si-t...
33
Meski kekeringan melanda sejumlah daerah di Tanah
Air, namun hal itu tidak serta merta membuat
ketahanan pangan menjadi terganggu. "Porsi lahan
kering itu tidak terlalu luas, karena itu terjadi
di sebagian kecil saja," jelas Deputi Menteri
Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu
Khrisnamurti, saat ditemui di Gedung Depkeu,
Jalan Lapangan Banteng, Senin (28/07/2008). Ia
pun menegaskan stok beras di gudang Bulog juga
masih aman untuk menghadapi hari-hari besar
keagamaan dalam beberapa bulan ke
depan. Sebelumnya, pemerintah telah menjamin
persediaan bahan pangan hingga Ramadan dan
lebaran cukup dan harganya relatif stabil. Hal
itu akan dilakukan dengan cara meminta Bulog
untuk mengintensifkan pengadaan berasnya.
Sumber lifestyle.okezone.com/read/2008/07/28/19/
1318...
34
Sumber www.litbang.deptan.go.id/berita/one/181/
Kesejahteraan petani di daerah marjinal (lahan
kering/tadah hujan) relatif masih rendah
dibanding petani lahan irigasi. Pengembangan
teknologi pertanian di lahan marjinal yang
merupakan konsentrasi petani miskin, lebih
tertinggal dan kurang mendapat prioritas
dibanding di lahan irigasi. Demikian juga dengan
dukungan kelembagaan dan ketersediaan
sarana/prasarana, serta akses informasi untuk
petani miskin kurang mendapat perhatian.
Kondisi seperti ini menempatkan mereka semakin
terpuruk dalam perangkap kemiskinan. Untuk
meningkatkan pendapatan dan keluar dari perangkap
kemiskinan, petani harus mampu melakukan inovasi
produksi dan pemasaran untuk menangkap peluang
pasar.
35
PEMBERDAYAAN PETANI MISKIN
Poor Farmers Income Improvement through
Innovation Project (PFI3P) dirancang untuk
menjawab permasalahan petani miskin.
Kesejahteraan /pendapatan petani miskin
ditingkatkan melalui inovasi pertanian mulai dari
tahap produksi sampai pemasaran hasil. Untuk itu
diperlukan peningkatan akses petani terhadap
informasi pertanian, dukungan pengembangan
inovasi pertanian, serta upaya pemberdayaan
petani. Pendekatan partisipatif dalam
perencanaan dan pelaksanaan, pengembangan
kelembagaan serta perbaikan sarana/prasarana yang
dibutuhkan di desa, merupakan alternatif dalam
pemberdayaan petani untuk meningkatkan kemampuan
inovasi. Proyek Peningkatan Pendapatan Petani
Miskin melalui Inovasi ini akan membangun
investasi desa di 1.000 desa di lima Kabupaten
tersebar yang di empat Propinsi yaitu Blora
(Jawa Tengah), Temanggung (Jawa Timur), Lombok
Timur (NTB), Ende (NTT) dan Donggala (Sulawesi
Tenggara). PFI3P bertujuan untuk meningkatkan
pendapatan petani miskin melalui inovasi produksi
pertanian dan pemasaran (agribisnis) dengan cara
1) Memberdayakan petani melalui mobilisasi
kelompok dan pengembangan kelembagaan serta
memperbaiki sarana/prasarna tingkat desa yang
dibutuhkan petani dalam mendukung pengembangan
agribisnis 2) Meningkatkan akses petani terhadap
informasi pertanian dan 3) Melakukan reorientasi
penelitian di daerah marjinal (lahan kering/tadah
hujan). Target yang dicanangkan adalah desa-desa
miskin, dimana desa tersebut dihuni oleh gt75
keluarga miskin, dengan ciri 1) Memiliki lah
About PowerShow.com